Skip to main content

Seperti Hidup Kembali

Baca judulnya, pasti langsung teringat lagu Andra and The Backbone. Sebagai intro, mari nyanyik dulu~


Kau temukan aku.
Ketika ku rapuh.
Terdampar membisu seperti debu
Matahari.
Seakan tak lagi.
Menyinari hati sepi ini~

Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, menulis dan menyanyi adalah dunia saya. Saya terbiasa membaca buku apapun dan menceritakan setiap kepingan hidup saya di mana pun; baik di buku diary, Friendster, note Facebook, sampai ke blog. Cita-cita menjadi seorang penulis mengantarkan saya pada jabatan Content Writer di sebuah Start-Up sekaligus menjadi travel writer pada jamannya. Selain menjadi penulis, saya juga sempat ingin menjadi seorang penyiar radio, agar saya bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaan saya sepanjang hari. Namun ternyata mimpi saya yang kedua tidak tercapai.

Berdamai dengan diri sendiri adalah hal yang sulit. Saya memilih untuk 'menghilang' selama dua tahun setelah memiliki anak. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan ketika saya ingin mengembangkan diri di luar sana tapi terbentur dengan kebutuhan anak yang masih menyusui. Pakai susu botol kan bisa? Tentu tidak untuk saya yang alhamdulillah dikaruniai ASI melimpah. Ditambah lagi, Juno benar-benar tidak mau pakai dot. Dan saya, benar-benar tidak bisa jauh darinya, meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama.

Menghabiskan waktu dengan anak adalah satu-satunya cara untuk saya menyembuhkan diri dari babyblues. Biarlah Sang Bapak sibuk bekerja untuk memenuhi nafkah keluarganya, hingga kantornya collapse dan kami melanjutkan hidup menggunakan sisa dana darurat sampai waktu yang lumayan lama. Setelah dana darurat habis ditambah kami harus renovasi rumah, akhirnya saya memberanikan diri untuk bekerja lagi, kebetulan saat itu Juno sudah dua tahun. Sekalian menyapih, alasan saya saat mertua menanyakan kenapa bekerja lagi.

Saya memilih untuk bekerja di SMK, menjadi seorang guru. Dulu, semasa kuliah, saya memang mengajar kursus anak SD dan English for Corporate selama kurang lebih dua tahun. Setelahnya, saya hampir tak pernah membayangkan, bahkan selalu menolak apabila ada tawaran mengajar. Saya yang tadinya berpikir akan menjadi wanita karir seutuhnya, ternyata harus membagi waktu dengan anak dan suami. Sehingga, menjadi seorang guru adalah satu-satunya pekerjaan dengan waktu yang fleksibel. Agar semua keurus.

SMK Al Muhtadin
SMK Al Muhtadin dalam proses penambahan gedung

Pada saat mengirim lamaran, saya menyisipkan dua aplikasi; sebagai guru Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Ndelalah, jodoh saya adalah mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Saya yang menyukai dunia tulis menulis, tentunya sangat enjoy menghabiskan waktu bersama anak-anak; membaca buku, bermain drama, menulis cerita pendek, membedah puisi dan lain-lain.

Di kala usai ujian semester, maka para siswa akan disibukkan dengan Class Meeting; yaitu lomba antar kelas dan pentas seni yang digelar secara minimalis. Saat melihat penampilan mereka di atas panggung minimalis, lengkap dengan gitar dan cajon, seolah-olah tombol turn on dalam diri saya ditekan secara otomatis. Ingin merebut mikrofon, ah tapi gengsi karena status saya saat itu masih guru baru.

Class meeting digelar selama satu minggu setelah para siswa melewati ujian semester selama dua minggu. Acara tersebut tentunya dibuat untuk melepas penat usai memeras otak, juga sebagai ajang adu kreativitas kelas. Hari pertama dan kedua mendengarkan mereka sibuk berkaraoke, tentu membuat saya---yang dulunya vocalis band cabutan---merasa tergugah. Hari ketiga, saya malah dipaksa menjadi juri lomba paduan suara & band. Pingin lompat-lompat, tapi masih jaim.

Sampai akhirnya saat hari keempat, ada salah satu dari mereka menyanyikan lagu Jamrud yang berjudul Pelangi di Matamu, kaki ini tak kuat lagi menahan untuk tidak naik ke atas panggung. Ya, saya menyanyi lagi, di depan orang banyak lagi. Rasanya, benar-benar seperti hidup kembali.




Lepas. Lega.
Kembali berkecimpung di karya sastra, kembali menikmati musik dan berteriak lepas saat reff.
Sampai tiga bulan kemudian, kita semua harus diam di rumah saja karena Corona.

Maret, April, Mei, Juni, Juli.
Kau tau, lima bulan mengajar dari rumah benar-benar membuat kepala saya ingin meledak.
Ditambah lagi, semua tempat rekreasi ditutup. Padahal saya sudah memiliki tiket PP Malang untuk keberangkatan H+1 lebaran, demi merayakan 3 tahun Juno di Semeru. Tapi semua rencana kandas.

Dan seperti yang sudah-sudah, setiap memasuki Bulan Agustus, saya selalu merasakan syndrom aneh seperti wake me up when August end. Kesal karena tambah tua, kesal karena banyak yang belum tercapai, kesal karena entah... pokoknya, mau ngilang kayak dulu. Am I on my QLC right now? Dunno.

2020 baru jalan separuh, tapi jiwa raga benar-benar mau runtuh karena dikuras habis-habisan. Teman baik meninggal, projek sana-sini gagal, omzet bisnis terjun bebas. Yang saya inginkan hanya menghilang dan teriak-teriak. Sampai akhirnya, pada suatu sore, empat orang siswa yang sudah tidak diajar lagi oleh saya, tiba-tiba datang ke rumah dan menghibur saya dengan satu kalimat, "Ibu mau nyanyi lagu apa?"

Dikeluarkanlah gitar, laptop, tripod dan mikrofon. Lelucon demi lelucon terlontar begitu saja. Dua buah lagu melantun sumbang dari pita suara saya yang sudah tiga hari menahan dismenore. 




Rangga, Nanda, Fikri, Zae

"Fikri yang gitar, Nanda ngerekam, terus yang dua ini ngapain?" 
"Nonton doang, Bu."
"....."

Lagu pertama lumayan mulus, Pelangi di Matamu milik Jamrud. Lagu kedua, saya ditantang menyanyikan Waktu yang Salah milik Bung Fiersa. Ternyata saya benar-benar tidak update sama lagu anak jaman now. Jadi yhaaa mohon maaf nyanyinya sambil mikir ini tuh gimana nadanya hahaha

Ternyata, yang saya butuhkan untuk meredakan gundah adalah bernyanyi, dan mengabadikannya melalui tulisan ini. Enjoy!



"Udah?"
"Allright~"

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.