Skip to main content

[Pangrango] Kabut Cinta Mandalawangi

Cerita sebelumnya klik disini :)

Kami memulai perjalanan menuju puncak Pangrango pukul sebelas siang. Bray memutuskan untuk stay di tenda. Jadi hanya sembilan orang yang melanjutkan perjalanan. Kali ini kami hanya membawa dua buah carrier. Yang satu dibawa Imam, satu lagi dibawa temannya Kang Fachri. Dan aku tetap setia membawa termos cantikku :D

Jalurnya terus menanjak, diperkirakan tiga jam menuju puncak. Kak Vaza, Kang Fachri dan dua orang temannya berjalan paling depan. Melaju terus tanpa rem, dan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Iya, mungkin itu upaya mereka agar cepat move on. He? Apa Hubungannya >_< *dikeplak*


Dan aku,
Aku sekali lagi jadi yang paling merepotkan. Heuheuheu *garuk-garuk-kepala*


Iya, perutku yang dari hari pertama sudah mulas tapi tak keluar-keluar malah kontraksi di sepanjang jalur menanjak. Merepotkan sekali, bukan? A' Nauvel berkali-kali menyuruhku untuk membuangnya saja. Namun aku menolak, dengan alasan; "Gak bawa sarung, malu." Hahahaha :D

Eh iya, kami tak hanya ber-sembilan, ada juga The Pirates yang sedang melakukan ekspedisi ke Pangrango-Mandalawangi. The Pirates ini juga termasuk dalam Green Ranger Indonesia. Hebat ya? Iya. Mereka berlima, kalau tak salah. Empat bapak-bapak dan satu orang ibu-ibu, aku memanggilnya mamah. Nampaknya Mamah cantik ini merupakan istri salah satu dari bapak-bapak itu. Salah satu? Atau salah semua? Ndak tau, coba ditanya.

Nah si Mamah ini juga lamban jalannya, aku jadi merasa bukan satu-satunya spesies yang tertinggal di muka bumi ini. Bahkan aku lebih cepat darinya. Wuuuu somboooong :p

Oke, jadilah aku yang setiap habis melewati tanjakan, berhenti, dibalap si Mamah, atur napas, jalan lagi, ngebalap Mamah lagi, nanjak lagi, nahan kentut, berhenti lagi, ngos-ngosan, minum, megangin perut, jalan lagi, kelepasan kentut, duduk lagi, minum, ngunyah permen, jalan lagi, gelantungan di akar pohon, dudukin kayu sampe patah karena keberatan beban, jalan lagi, kehabisan minum, minta minum Imam, lari-lari sama A'Nauvel, kesandung batu, kepleset, jatuh cinta, diburu-buruin Nganga, di-'ayo, Git, semangaaat'-in sama Kak Hay, megangin perut, minum lagi... jalan menanjak, kakinya gak nyampe, ditarik imam pakek sarung...


dan tak lupa foto-foto..

Duduk di Kayu

Kayak gini treknya

Dan begitu terus berulang-ulang..


Sampai akhirnya kami mendengar teriakan..


"Buruuan jalaannyaaaa.. Vaza laaaapaaaaaaaar!!!!"

"Hahahaha.." Sontak kami semua tertawa dan berjalan lebih cepat ke arah sumber suara. Iya, memang jam segitu adalah jam makan siangnya kak Za, dan ia tak boleh telat makan siang. 

Dari kejauhan terlihat Kak Za, Kang Fachri dan dua orang temannya sedang foto-foto di sebuah tugu. Kami tak mau kalah :p

ULET TEAM \(^_^),),),),),),)~

Ini gayanya om Lovie Gustian - @RoeangLovie *sungkem suhu Lovie*


With The Pirates - without mamah (Si mamah belum sampai )

Ah, ternyata kami telah sampai,
tepat di 3019 meter diatas permukaan laut..
Sayang sekali saat itu kabut sudah turun, padahal seharusnya kami dapat melihat kokohnya gunung Gede, Halimun dan Salak dari atas sini :(

Namun hal itu tak menyurutkan langkah kami untuk tujuan selanjutnya... MANDALAWANGI!!!

Trek menuju Mandalawangi landai, ah, bukan landai lagi itu namanya, tapi rada turun. Aku berlari-lari kecil. Heuheuheu :D Tak sabar ingin beristirahat dan duduk-duduk lama. Sementara kak Za juga ngebut, kalau dia sih ketauan, mau cepat-cepat makan :p

"Kalian jadi foto pake dress? Hahahaha.." Tanya Kak Hay.

"Ahahaha.. Iyaaa unyuuuuuu.." Jawabku semangat.

"Ayooo buruuaaan, kabut niiih!" Kak Za lebih semangat lagi.


Sesampainya di Mandalawangi, gerimis mulai turun..

Nganga dan Kak Hay tersenyum riang :D
Kak Za teriak lapaaaar :D
 
 

"Agiiiiiiiiiiiit, ayo india-indiaan.." Ajak A'Nauvel sambil cengar-cengir.

"Ahahaha ayooo.."

Aku berlari-lari ke arahnya
Tiba-tiba lagu Koi Mil Gaya terasa merdu di telingaku
Bersahutan dengan desir angin dan rintik hujan
Ah,
Ternyata benar
Segala permasalahan bisa diselesaikan dengan menari sebentar
Sama seperti film india

*PLAK!!
FOKUS GIT!!! -____-

Buahahahahaha.. :D

Kiw kiw :3


ah, Edelweis :')
hujan-hujanan :3

Kamu jangan cemburu, ya..
Aku dan dia hanya teman :'')
Wkwkwkwk :D
Eh, tapi gakpapa deng cemburu,
Itu tandanya kamu sayang care sama aku.
:)
#AgitGagalMoveOn

Imam langsung menggelar flysheet. Eh, bukan flysheet, deng. Tapi ponco kak Za yang di dirikan sedemikan rupa. Kemudian segera merebus air. Tak lama, hujan turun, deras. Kami merapatkan barisan. Dan posisi Kang Fachri yang duduknya paling depan membuat kami terlihat seperti sedang naik angkot desak-desakan, dengan ia sebagai supirnya. Sayang, nggak ada fotonya. Kebayang nggak? Nggak kebayang?!! Yaudah, gak usah dibayangin :p

Tak lama Pirates datang, lengkap dengan si mamah. Kami masak-masak ceria di Lembah Mandalawangi.

"Ada orang Bekasi gak dimari?" Tanyaku, iseng.

"Lah, saya orang kampung siluman!" Celetuk seorang bapak. Kami sontak tertawa.

"Saya orang kampung bulak." Sekarang kami ngakak.

"Saya juga orang Bekasi, Bang." Ujarku, kalem Heuheuheu *dikeplak bayu*

"Bekasinya mana?"

"Pondok Timur."

"Lah, saya orang rawamulya." Celetuk bapak lainnya.

"Sama rumah sakitnya pak haji N*no*?" Tanyaku. (Maaf, nama disamarkan)

"Dekeeet. Laaaah tetangga yak." Jawab si bapak dengan logat Bekasi kental. Kemudian dilanjutkan dengan bahasa Bekasi yang aneh-aneh. Gak usah dibahas aaaah, saya jadi malu jadi orang Bekasi >_<

Saling berbagi makanan dan minuman hangat..
Mengisi perut-perut lapar..

Aku disuapin :3

Dan tak lupa mengabadikannya dalam sebuah video...



Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti,
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah

Dan antara ransel ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas batas hutanmu, melampaui batas batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie



Kami sejenak mengheningkan cipta, meresapi segala bunyi-bunyian yang ada.
Desir angin, rintik hujan, jernih suara sungai,
Damai yang kami rasa, sehingga membuat kami malas beranjak dari sini.
Saling merapatkan jarak dan memeluk lutut.
Padahal hujan semakin deras dan kabut mulai menggelapkan pandangan.


Tiba-tiba Nganga pergi..


Dan tak lama ia kembali..


"Dari mana, Nga?" Tanyaku.

"Habis buka baju di tengah Mandalawangi, habis nyobain disetubuhi kabut mandalawangi" Jawabnya girang. 
Kami tersenyum...
Dan ditengah lembah mandalawangi.
Diantara dinginnya hujan dan hangatnya persahabatan,
Tubuhku, tubuhmu,
Tubuh kami semua,
Disetubuhi kabut cinta Mandalawangi...


Sementara di luar pulau sana, beberapa teman kami sedang melakukan perjalanan ke Kerinci dan Rinjani. Kami mendoakan yang terbaik untuk semua. Agar kelak dapat menceritakan pengalaman masing-masing pada tanggal yang sama, pada gunung yang berbeda. Ini 10 Mei 2013 kami, mana 10 Mei 2013-mu? :)




Sila baca lanjutannya >> disini :)

Comments

  1. lah yang jadi kampung siluman siapa itu kak? jalur bolak balik itu haha orang bekasi banyak bener

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"