Skip to main content

[Pangrango] Kandang Badak yang Basah

Cerita sebelumnya klik disini :)


Kalo kandangnya cuma kayak gini, Badaknya bobo dimana?:|


Sesampainya di Kandang Badak, aku segera masuk ke tenda milik om Teddy yang akan dipakai olehku dan Kak Vaza. Lokasinya agak miring. Gerimis tak kunjung habis. Aku gemetar kedinginan. A' Nauvel menyuruhku segera berganti pakaian. Kami dipisahkan oleh keadaan. Oh.. Betapa.. #apaansik -__-

"Agiiit.. Kalo udah ganti baju makan duluuuu.." Teriak Imam atau Nganga, aku lupa. Aku hanya mengiyakan. Kemudian bergegas keluar dan masuk ke tenda mereka. Nganga membuatkan kami sandwich seadanya. Heuheuheu :D Roti tawar yang dipanggang kemudian diisi dengan sosis goreng dan saus. Cukup untuk mengisi perut-perut lapar kami. 

Kemudian Imam menyeduhkan minuman hangat untuk kami. Ada susu cokelat hangat, kopi hangat, teh hangat, dan semuanya yang serba hangat. Iya, salah satu kelebihan Imam adalah memberi kehangatan kepada banyak orang. #uhuk

"Eh, aku teh punya nasi bungkus." Celetuk A' Nauvel.

"Yaudah atuh dibuka." Sahutku. Ia membuka dua buah nasi bungkus dengan lauk orek tempe dan telur balado. Nganga menggoreng nugget cukup banyak. Kami makan ramai-ramai. Kecuali Kak Vaza yang telah mengaku kenyang. Hebat Kak Za ini, sudah sampai Kandang Badak paling pertama, menunggu kami lama, makan roti saja sudah kenyang. 

Tak lama kemudian Kak Za kembali ke tendanya, aku hampir ketiduran di tenda Nganga.

"Agiiit... Pindah sanaaa.. Jangan tidur disini!" Usir Nganga.

"Haaa.. iyaaa." Aku beranjak. Tapi bukannya kembali ke tendaku, malah masuk ke tenda kak Hayya dan Bray.

"Tuh, Git.. Si Bray masak makroni.." Tawar Kak Hay.

"Agit ngantuk ah, Kak.." Aku tertidur dalam hitungan detik, pulas.

Satu jam kemudian..

"Agit lapar lagi.. Tapi mulas.." Ujarku ketika membuka mata. Kak Hay tertawa dan menyodorkan tempat makan berisi makroni. Aku melahapnya setengah porsi.

"Habisin aja, itu emang buat Agit kok." Lanjut Kak Hay. Aku malah tidur lagi. Kerbau sekali aku ini, makan-tidur-makan-tidur. Untung saja tak memamah-biak -___-

"Heh. Bangun lu bocah!" Bray mengusirku.

"Gue mules, Bray.. Lo udah boker pup belum?" Tanyaku. Aku lupa Bray menjawab apa. Tak ku gubris. 

"Beser aja yuk, Kak. Tar keburu malem, serem." Ajakku ke Kak Hay. Ia mengikutiku. Hehehe ^_^

Setelah urusan buang air selesai, aku kembali ke tendaku, memakai sleeping bag, kemudian menyusul kak Za yang telah terlelap.

"Jam berapa, Git?" Tanya Kak Za.

"Jam enam sore, Kak. Maghrib" Jawabku sambil menutup mata.

Satu jam..

Dua jam..

Tidurku tak nyenyak. Posisi tenda yang miring membuat kami merosot terus ke tempat yang lebih rendah. Sementara posisi kepala kami di tempat yang lebih tinggi.

Beberapa jam kemudian..

"Agiiiit.." Teriak seseorang dari luar tenda.

"Iyaaaah.." Jawabku serak.

"Ada carrier sama sleeping bag gak didalem?" Tanya orang itu.

"Itu siapa, siiiiiih?" Tanyaku lagi.

"Arjul, Git.." Sahutnya.

"Masuk aja, Juuuul.. Cari ajaaa.. Agit ngantuuuk.." Aku merapatkan sleepingbag.


Arjul krasak-krusuk.


"Sleepingbangnya gak ada, Git.." Aku beranjak dari tidurku, kemudian duduk dan ngucek-ngucek mata sambil menoleh kanan-kiri, kemudian tidur lagi.


Arjul bengong.


"Coba cari di tenda Nganga, Imam, Nopeeel.. Tendanya yang Eiger oreeen. Kalo gak salah di Nganga tadi. Agit lupa-lupa inget." Aku mulai ngigo.

"Oh, iyaa.. Makasih ya, Git." Arjul menutup resleting tendaku. Aku tak ingat apa-apa lagi.



Beberapa jam kemudian..


*suara resleting tenda dibuka*

"Agiiiit..."

"Iya, Maaam.."

"Agit kok tidurnya dibawah?" Aku bangun, duduk, kemudian naik ke atas sedikit dan tidur lagi.

"Iyaaa.. dari tadi merosot teruuus."

"Agit dingin gak?" Tanya Imam lagi.

"Dingin, Maaaam kaki Agit." Suaraku makin serak.

"Agit gak pake kaus kaki?" Imam nanya terus ni -_-

"Kalo pake kaus kaki makin dingiiin. Ini kaus kakinya Agit lepaas."

Hening.

Aku duduk lagi.

"Mau summit ya, Mam?" Tanyaku pelan.

"Enggak, kok. Cuma ngecek aja. Itu Vaza dibangunin biar naik keatas tidurnya." Ujar Imam. Aku menggugah kak Za. Ia tak bergerak sama sekali. Aku tidur lagi.

"Sekarang jam berapa, Mam?" Tanyaku dengan mata tertutup.

"&*#??!!><^#$" Imam berbahasa makhluk lain.

"Kita summit jam berapa, Mam?" Aku mulai ngigo lagi.

"@#$%^&*>!@@#$" Imam curhat, ia sedang mencintai seorang pria kaya raya dari negeri seberang. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi hubungan mereka tak direstui orangtua. Mereka kawin lari dan tak punya anak hingga kini. Wkwkwkwkwk, anggap saja Agit lagi mimpi :D

Setengah bermimpi
Hujan terus merintik diluar tenda
Mengembun
Menembus pori-porinya
Basah 

Aku terus meringkuk didalam kantung tidur
Bermimpi
Menembus batas-batas keraguan antara kita
Semu
Kandang Badak, 10 Mei 2013

"Agiiit.. Bangun yuuk.." Kak Za membangunkanku. 

"Udah jam berapa, Kak?" Tanyaku.

"Setengah enam ni, masih rada gerimis." Ia membuka tenda dan meninggalkanku. Aku menyusulnya. Mencari makanan. Hehehe :D

"Kak, udah pipis belum?" Tanyaku lagi. Kak Vaza mengantarkanku buang air. Kemudian kembali ke tenda dan memakan segala yang ada.

"Agit mulas dari semalam. Tapi tempatnya nggak meyakinkan."

"Fachri udah buang tadi. Hehehe." Fachri mengaku.

"Kok gak ajak-ajak?" Tanyaku sambil melirik tajam.

"Tadinya cuma mau ngambil air, eh jadi kebelet. Yaudah sekalian. Hehehe"

"Eh, kita summit jam berapa?" Tanyaku lagi.

"Itu tunggu temen-temennya Nopel pulang dulu." 

Iya, Anak-anak UPI dan Om Teddy memutuskan untuk pulang duluan. Sebagian ada acara, sebagian lagi fisiknya ngedrop. Sampai jumpa lagi, Anita, Nurul, Dillah, Ajeng, Beni, Vian, Faris, Arjul, Gallan, Jajang, Om Teddy, dan yang lainnya. Agit cayang kalian cemuaaa. Uwuwuwuwu :'''3 *dadah-dadah-cediih*


mereka yang dari bandung :')
Imam, Kak Za dan Nganga ikutan eksis :D

Gak ada Agit :(

"Arjuuul, itu termos Arjul kegeletak didepan tenda Agiiiiit.. Jangan lupa dibawa pulaaaang!" Teriakku dengan gaya emak-emak sekali.

"Iyaa, kak Agit.." Jawab Arjul kalem.

"Atuh kenapa bisa kegeletak disitu semaleman?" Tanyaku.

"Iya semalem kan abis ngobrak-ngabrik tenda kakak. Hehehe kasian yah, dia kedinginan sendirian diluar." Sahut Arjul.

"Agit dong, termosnya diisi air panas, terus dimasukin sleepingbag, dipeluk-peluk sampai pagi biar tidurnya hangaaaat." Aku bercerita.

"Arjul mau dong jadi termosnya kakak.."

 "........" (keplak Arjul)

"Arjul jangan panggil Agit kakak, Agit baru delapanbelastahun." Iya, aku selalu bangga menyebutkan umurku. wkwkwk :D

"Arjul baru tujuhbelastahun.."

...dan beberapa percakapan lainnya dengan mereka yang dari Bandung. Nganga eksis euy poto-poto sama mojang Bandung.#uhuk #colekAjeng...


Kandang Badak masih basah, mereka memutuskan untuk pulang. Yang tersisa tinggal aku, Nganga, Kak Hay, Kak Za, Imam, Bray, A' Nauvel, Kang Fachri dan dua orang temannya. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Puncak Pangrango dan Mandalawangi. Sampai jumpa lagi, kawan :)



Sila baca lanjutannya >> disini :)

Comments

Popular posts from this blog

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.