Skip to main content

Mahameru 2013 : Tak Kenal Maka Tak Sayang (Part I)



Postingan kali ini masih ada hubungannya dengan Memorable Trekking Semeru 2013 (bisa dibaca disini) namun tak berbentuk cerita seperti biasanya. Sesuai dengan judulnya, Tak Kenal Maka Tak Sayang, maka akan ku perkenalkan satu persatu tokoh-tokoh yang terlibat dalam acara ini beserta penampakannya. Foto-foto ini diambil dari kiriman teman-teman di twitter, fesbuk dan koleksi pribadi. Monggo disambi :)



Kak Lidya dan Aku di St. Pasar Senen
Leyeh-leyeh di Balai Desa Tumpang
        Team Tompel - Dari Kiri Atas : Bang Hengki, Caesa, Nganga, Arya, Kibo, Budi. Dari Kiri Bawah : Donny, Gue (Agit), Bang Ucup, Mbak Juni.







Uchil, Guide Tim Oro-oro Ombo

@HendraKiboo - Kibo
@SasongkoBudi - Budi


@simplededen - Ucup

@AryataraBray - Arya

@catharina_jun - Mbak Juni
@therajas - Bang Hengki
@Kengaga_KRSB - Nganga
@agitavio - gue, digendong Ayah Ucup :')
@Fourantyy - Caesa

@aloysiusdonny - Donny

Makan Eskrim. yang pojok kanan mupeng gak dibagi :D
Tim Tompel + Penyelundup Tanpa Eskrim

Arya, Kibo, Nganga. Mukanya Arya homo banget ih -_-
Caesa si mata merem, dan Uchil si pinky boy
Ceritanya Tanjakan Cinta
Aku dan Bang Ucup, Pagi pertama di Ranu Kumbolo
Kibo dan Jessica yang mengalihkan dunianya
Ranu Kumbolo Berkabut

Oro-oro Ombo

Mahameru
    


Dokumentasi perjalanan selanjutnya, silakan Klik disini :)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"