Skip to main content

[Pangrango] Dalam Kesendirian di Sepanjang Jalur Cibodas

Rabu, 8 Mei 2013

Selalu ada keraguan tiap kali mau melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi berhari-hari, pergi untuk naik gunung, misalnya. Dan seperti biasa, aku belum mengantongi ijin dari Ayah. Aku hanya bilang, aku pergi ke kawasan Cibodas dan pulang hari Jum'at. Beliau mengiyakan, namun hatiku tetap ragu.

Sebuah keraguan,
Untuk apa tujuanku melangkah kali ini?
Aku baru saja menyudahi hubunganku dengannya, beberapa hari setelah ulang tahun pertama kita.
Apakah perjalanan ini hanya sebuah pelarian? Atau pencerahan batin yang suntuk? Atau mungkin perjalanan dimana aku harus mulai membersihkan sisa-sisa kenanganku bersamanya?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri pun, aku masih ragu.

Seorang teman pernah berkata, "Ketika hatimu patah, bawalah kakimu untuk melangkah"
Sepatah itukah hatiku sampai-sampai harus melangkahkan kaki ke gunung? Rumit memang. Namun sudahlah, aku toh hanya mengikuti ajakan trip dari mereka. Nikmati saja perjalanannya...

***

Perjalanan kali ini melibatkan 21 orang. Tujuh orang dari Jakarta dan sisanya dari Bandung semua. Beberapa orang eks-Semeru2013, sisanya temen-temen mereka, temennya lagi, dan temen dari temennya lagi. Repot ya? Heuheuheu.Ada Nganga, Imam, Bray, Kak Hayya, Kak Vaza, Fachri, Nauvel, Om Teddy, Vian, Anak-anak UPI, dll. Baca aja post sebelumnya yang di Semeru dan Papandayan. Aku malas ngenalin lagi :p

Kali ini gak ada Leader. Semua bertanggungjawab atas diri masing-masing. Tapi A'Nauvel tetap menjadi penanggung jawab rombongannya, Anak-anak UPI. Dan bertanggungjawab atas diriku juga deng #halah #uopoiki Sabar yah a' :D

Meeting Point tujuh orang dari Jakarta ditentukan di Terminal Kampung Rambutan. Seperti biasa, aku datang paling pertama, kemudian disusul Nganga dan yang lainnya. Kang Fachri berangkat dari Cileunyi beserta dua orang temannya, sementara A'Nauvel berangkat dari Bandung juga bersama anak-anak UPI.

Nganga ini ajaib, begitu datang ia membawa sebungkus kue lengkap dengan pita merah jambu *yang katanya dari temannya* Berikut penampakannya..

kue unyu dari @dinaapuspita


Setelah lengkap tujuh orang, dengan menaiki Bus Do'a Ibu Jakarta - Cianjur pukul sepuluh atau sebelas malam, aku lupa, aku tertidur pulas beberapa menit setelah bus berjalan. Benar-benar pelor memang, nempel-molor. Dan tiga jam kemudian akhirnya kami sampai di pertigaan Cibodas.

Begitu turun dari bus, Brrrrrrrrrr.. dinginnya ruar biaso :D
Aku masuk angin, dan terkentut-kentut sepanjang jalan :|

Akhirnya kami bertemu dengan rombongan dari Bandung yang telah menunggu lama. Iya, tak hanya kau yang menunggu lama, aku pun telah menanti-nanti hari ini, untuk segera berjumpa denganmu. #abaikan

Dan dinginnya Cibodas,
seketika menghangat saat jari-jemari menjabat tanganmu..
Begitu pula mata kantukku,
seketika berbinar-binar menyadari sosokmu yang selalu berada didekatku..
Ah, Fatamorgana..

#Fokus #Fokus #Fokus Git!!!>_<

Kembali ke cerita..

Tak lama setelah berkumpul dan berhitung 21 orang lengkap, kami mencharter angkot menuju pos perizinan. Ternyata barak yang telah Imam pesan tanpa booking itu telah ditempati orang. Jadilah kami beristirahat di warung seadanya. Isi perut, charger henpon, leyeh-leyeh bahkan tidur sampai menunggu shubuh. Dan semakin pagi rasanya semakin dingin. (Yakin, Git, dingin?) Iya! 'dingin'!! -____- #AgitError

Pukul setengah enam pagi, akhirnya kami berkumpul. Mengecek gear dan share beban. Aku membawa tenda yang akan dipinjam oleh Fachri dkk. Tenda kuserahkan pada Fachri, dan entenglah sudah carrierku ini :D

Setelah semua dirasa lengkap, kami berkumpul, berhitung dan berdoa bersama..

Foto sebelum pendakian

he? kayak ada yang hilang :|

Kami berjalan perlahan, membentuk satu barisan, menuju pos perijinan pendakian. Aku hanya diam, dan berjalan sendiri tanpa teman bicara. Aku memang belum cukup untuk dikatakan waras ketika ku sadari aku lebih suka berbicara sendiri. Nafasku memburu, inilah akibat tubuh malasku yang tak pernah berolahraga. Rasakan! Baiklah.. angel dan demon dalam jiwaku sedang bertengkar -_-


Dimana aku? Disini..

Langit kala itu,
Biru,
Bercampur kelabu..
Mentari enggan menyinari kalbu,
Seperti aku yang enggan menyatakan rindu..

Terpaku,
malu..

Terhanyut,
dalam resah..

Terombang-ambing,
dalam gundah..

Terbakar gulana dalam dinginnya pagi,
Membangunkan asap-asap emosi,
Mengusir benih-benih kasih..
Pergi!!!

Tertatih aku,
dalam nafas memburu,
tak peduli siapa kamu.. 

 Cibodas, 9 Mei 2013

 

Setibanya disini, Angel dan Demon telah berdamai.



Akhirnya aku berjalan dengan Nganga. Berbincang sedikit yang bahkan aku sendiri lupa apa saja isi obrolannya. Kemudian berganti dengan Imam, dan beberapa kali diberi petuah.. beserta beberapa pernyataan dan pertanyaan yang bikin skakmatt. *sungkem suhu imam*

Melintasi Telaga Biru, yang kata Imam, disini masih ada ganggang biru yang hidup. Namun kali itu yang kulihat airnya bahkan butek.

"Agit gakmau foto-foto?" Tanya Imam, mengalihkan pandanganku dari telaga-biru-berair-butek.

"Eh? Imam gak foto-foto?" Tanyaku kembali.

"Enggak, kemarin Imam udah foto disini." Jawabnya jelas.

"Agit juga enggak deh." Kami melanjutkan perjalanan.

Kemudian beberapa kali beristirahat sesuka hati, aku benar-benar onta sekali, dan Imam benar-benar penggembala onta yang sangat sabar. *salim suhu imam*

Beristirahat di Pos Pencayangan, tragedi dimulai.. Dua anak UPI dikabarkan hilang, ah, bukan hilang, tapi terpisah dari rombongan. Sebut saja Benny dan Ajeng. Iya, mereka tak melihat kami sedang beristirahat di pos. Mereka malah ambil jalur ke kanan, menuju air terjun (curug). A'Nauvel, Nganga dan Imam segera mencari, ternyata mereka sedang menikmati pemandangan curug. Baiklah -__-

Perjalanan di lanjut, aku masih sama Imam. Kak Vaza, Kang Fachri dan dua temannya didepan. Kak Hayya dan Bray gaktau dimana. Aku masih tak bisa berpikir jernih. Suntuk!

Dan akhirnya beristirahat sangat lama di pos sebelum air panas, beberapa teman cedera. Bahkan sangking lamanya, aku sempat tertidur pulas. Dan sempat memimpikannya. Memimpikan siapa? Yang mana? #Ambigu

Dari pos tersebut, aku berjalan mengikuti Om Teddy. Melintasi air panas dibantu Nganga, kemudian Om Teddy sudah tak terlihat lagi. Akhirnya aku tertinggal begitu jauh. Mau kembali ke Nganga yang masih membantu orang lain menyeberang pun aku enggan. Tiba-tiba hujan, merintik, kemudian deras. Aku berjalan sendirian. Dalam hujan.. Kedinginan.. Begitu pelan.. Dan tanpa genggaman.




Notes : Menulis dalam keadaan perasaan gak tentu hasilnya jadi kayak gini. Selamat menikmati!



Sila baca lanjutannya >> disini :)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"