Skip to main content

Kemping Unyu Papandayan #1

Daaaaaaaan, yak!
Setelah turun dari Papandayan seminggu lalu, akhirnya saya mosting juga. Mengingat-ingat hal apa yang telah terjadi disana, suka-duka-dan-modus-pastinya. Serta target turun berat badan 6kg yang ternyata malah nambah berkilo-kilo karena makan terus. Sukses Kak Ida dan Mbak Gita!!!

Harus saya perkenalkan satu persatu lagi nggak, sih?
Kebetulan yang join trip ini hampir sama kayak Cidahu-Cicurug kemarin (bisa dibaca di sini) walaupun ada beberapa tambahan orang. Yah, sekalian numpang tenar, mari saya perkenalkan satu per satu (lagi) orangnya :)



Bang coco ini Captain tim kita. Doi yang paling bawel masalah perlengkapan dan persiapan perorangan. Terutama dalam hal ngingetin "Bawa baju yang banyak, disana dingin banget. Berlapis-lapis" -- Tapi karena kulit saya tebel dan lemaknya banyak, saya bahkan gak bawa baju apa-apa, cuma jaket doang dua lembar sama pakaian dalem. Hehehe. Bang Coco bawa banyak temen backpackerannya. Yuk, scroll kebawah.



Wuuuuhuuuu :D Salam jempol braddaaa d(-_-)b
Doi emang backpacker sejati, tapi ini first time doi meng'gunung'. Dulu sempet ke Gede tapi mentok di curug, terus mau ke Semeru malah melipir ke Bromo. Jalannya selow tapi cepet, rada curiga doi ini titisan keong atau kancil #Abaikan. Masih pendiem kayak trip sebelumnya, susah dimodusin. Percaya deh! Keliatannya doi orang yang sabar. Iya, rata-rata Gooner emang penyabar kan? Ehhh ^^v



Ini temennya Bang Coco juga. Lulusan Tata Boga UNJ. Hahaha panggil aja Om, Om Ipung. Iya, beliau sejenis om-om-ganjen-dengan-motto-om-senang-om-bayar. Udah punya anak tapi masih modus kemana-mana. Gak ada yang mau satu tenda sama Om Ipung. Entah takut diapa-apain atau emang tendanya gak muat sama badan doi yang gede banget ini. Kesalahan terbesar gue adalah sering keceplosan ngomong jorok didepan Om Ipung, jadi panjang urusannya -___-




Panggilannya Bang Endi. Inisiatif saya aja sih ngetik namanya jadi A. Suhendi. Bacanya jangan disambung ya :D Hahaha. Doi orangnya kecil tapi kancil. Jalannya cepet banget padahal cuma pakek sendal jepit yang udah banyak streplesan dimana-mana. Dulu pernah kerja di restoran belanda, tapi gakmau masakin kita makanan belanda. Paling jago minta rokok sama kopi ke orang yang bahkan baru doi kenal saat itu juga. Bang Endi adalah contoh mountaineer dan biker sejati yang sangat sayang istri (baca : suami-suami-takut-istri)

Wahyudi Eko Wantoro


Perkenalkan, ini dia penampakan Ketua BEM STIBA IEC Bekasi TA 2012/2013. Doi nekat ikut dengan bawaan tas Laptop yang isinya baju sama celana selembar. Berangkat pun cuma pake jeans, sepatu sneakers dan jaket kulit yang katanya anti air. Kita yang cewek-cewek bawa beban berat rasanya iri deh yah liat dia tasnya enteng gituuuh. Oke, untung doi gak hypotermia gara-gara tidur pun gak pake sleeping bag. Serem yah :( Posenya itu lhooo, gak nahan bangeeeet. Antara lagi jadi model coverboy atau lagi nahan boker. Pfffffft -_-

Mas Andre - Kuncen STIBA


Mas Andre juga sama, nekat bawa daypack doang tanpa sleeping bag. Tapi doi sih mending, sebelumnya uda pernah 'munggah'. Terus juga nurut disuruh bawa logistik yang bikin tasnya jadi berat. Doi baik hati dan tidak sombong, mau morterin mbak Gita bawa tas depan belakang, selalu nyemangatin temen-temen kita yang mulai kepayahan dengan suara medhoknya yang khas banget. "Tangghung, Tangghuuung! Lima menit laghi sampeeek. Diatas adha mall" :''')



Ibang join lagiiiiiiii :D Bermodalkan lemparan gear dari pacar kakaknya, eh maksudnya kakaknya si pacar, akhirnya doi ikut. Ngoceh terus sepanjang perjalanan, cadangan cokelatnya banyak, pakek topi rimba dari bahan kulit yang warnanya merah tanah unyu-unyu gituh, nanti deh liat pictnya. Hahaha. And that was the first time doi munggah :)



GELA KAN IMMUT FOTONYA GELA BANGETTT!!! hahahhaha
Masih suka ngakak kalo zoom in - zoom out foto ini. Immut ini pedenya over banget deh. Gak ngerti apa karena impuls-impuls otaknya yang udah gak beraturan atau hormon testosteronnya berhenti bekerja dengan baik #ApaHubungannya. Coba liat dari atas kebawah, "Barang apa dari semua barang yang melekat ditubuh Immut, yang nggak minjem?" Hahahaha SEMUANYA MINJEM!! Cuma celana sama baju rajut panjang warna merahnya itu doang yang gak minjem. Hastagaaa... Immuuuut... Sangarrr tas pinggangnya. Hahaha (Apa lo, Mut? Mau bales postingan gue? Sinihhh baleeees. wkwkwkw :p )




Nggak sebawel biasanya, nggak se-resek biasanya, nggak seceria biasanya. Tidur duluan, bangun belakangan. Gak ikut muncak pula. Iyah, Mas Nur emang lagi galau. Dari munggah sampe mudhun, doi galau. Bapak pacarnya meninggal, dan doi bingung harus balik duluan atau gimana. Jadinya doi galau. Mari teman-teman, kita bacakan Al-Fatihah...



Wuhuuuuu :D Kak Ida satu-satunya emak-emak yang join di trip ini. Liat dong badannya, Keker banget kan :D Semangatnya gak pernah habis walaupun napasnya udah hampir habis. Doi akhirnya nyerah bawa kerir segede gaban yang baru dibeli itu dan kerirnya dibawain Mas Eko si ketua BEM (Rasakno --") Doi objek foto dengan jumlah pict terbanyak di kameranya Bang Coco #EhMaap #CeritanyaKeceplosan. Dan suaminya uring-uringan dirumah sampai jatuh sakit karena istrinya pergi dengan pria lain. ihiiiiiiiiiiiyyyy :D Saya tau pasti Kak Ida mbatin gini, "Ih Gete parah banget. Lemes nih Gete. Bocooooooor" ^^v




Si OrangeHolic yang unyu-unyu dan serba jijik-an ini akhirnya betah dihutan. Hahaha. Target susut enam kilonya juga gagal gara-gara dikit-dikit makan. Seneng ada dia di trip ini, jadi ada hiburan yang manja-manja gimana gitu. wkwkwk. Hei kakak dengan nama sama, lain kali kita main ke gunung lagi ya :)




Kak Amel, orang yang paling antusias waktu saya baru turun dari Semeru. Dan paling interest waktu diajak ke Papandayan. Orangnya baik banget, gak emosian kayak saya. Makanya Immut betah deket doi dan ngejauh dari saya. Doi sempet keram berkali-kali dan muka melasnya itu kasihan banget :'(




Nah ini saya, Agita Violy, anak kecil unyu yang suka modus dan cengengesan. Sebagian manggil Gete, ada juga yang manggil Agit. Tujuan saya kesini sebenernya mau reunian sama temen-temen Semeru kemarin. Hehehe tapi berhubung temen-temen kampus berhasil diracunin, jadi ya saya berangkat bareng mereka. Udah ah, tentang diriku jangan banyak-banyak, nanti suka loh ;) *kedip-kedip-ganjen*



Pria tangguh asal Bandung. Rombongan saya dijemput sama dia di Terminal Guntur, Garut. Rencana awalnya kita sama-sama bawa rombongan terus jalan bareng, eh ternyata malah saya sama dia doang yang jalan berdua, rombongan kita misah. Hahaha enggak ding, betjanda *blush* A'novel ini temen nyemeru, doi bawa temen-temen kuliahnya, tapi saya juga lupa siapa aja. Hahaha. Jangan panjang-panjang juga deh tentang A' Novel, nanti ada yang cemburuuuuuu :D


Ada yang belum kesebut kah? Mention aja ya di twitter saya @agitavio. Hahaha kali ini perkenalan aja dulu, cerita selanjutnya di Part 2, Oke? 


(Bersambung ke Papandayan #2 bisa klik disini)

Comments

  1. wah berarti saya penyabar sama bang addie, kapan kapan ajakin ke semeru biar pake jersey barengan :D

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. wah matep ne web...... ketua panita kapan2 ayo lg... @agitavioly.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"