Skip to main content

Kereta Terakhir Matarmaja : Perjalanan Belum Berakhir


Cerita Sebelumnya bisa dibaca, disini :)

“Don, lo sendirian disini?” Aku duduk dihadapannya.

“Iya sendiri. Nanti lo tidur disini aja kalo kosong Git.” Aku mengangguk.

“Kok lo bisa masuk?” Tanyaku lagi.

“Iya, gue beli tiket lagi jadinya.”

“Lah katanya Matarmaja penuh. Kok ada tiket lagi?”

“Iya soalnya gue udah punya tiket Fast-pay, tapi angus. Jadinya gue disuruh beli tiket lagi seenggaknya gue udah ada bangku didalem. Gak ngerti gue juga.” Jelas Donny. Ada-ada saja PT. KAI.

“Ini gue ada empat tiket cancel punya anak-anak. Bangkunya didepan semua. Lo mau kedepan gak?” Tawarku.

“Tas gue biarin disini aja?” Tanya Donny sambil melihat keatas.

“Gakpapa udah..” Jawabku santai.

“Lo duluan aja git, nanti gue nyusul” Aku segera kembali ke bangkuku.

Dihadapanku ada Bang Faisal. Kami menduduki tiga bangku sendirian. Indahnya dunia. Namun tak berapa lama, Donny datang, disusul Kity, lalu Keyko dan Imam yang entah darimana asal tempatduduknya. Kity dan Keyko ini anggota kelompok tiga juga, bareng Imam. Mari kita perkenalkan satu per satu.

Imam, pria berumur 27 tahun yang paling jago modus. Modusannya selama digunung adalah Kity. Kalau berbicara layaknya aktor kawakan. Doyan makan pisang dan jarang ngerokok. Punya piaraan berupa seekor sapi. Baru-baru ini baru ketauan kalo do’i lulusan analis kimianya tunas harapan. Ayo yang anak tunas merapat, do’i angkatan lawas tuh. Udah tua :-D

Qisty Aulia, panggilannya Kity – jangan panggil Mbak. Seorang calon dokter gigi dan gak ketauan kalo umurnya udah diatas dua puluh, tingkah sama mukanya masih kayak anak SMP, tuaan gue! Hahaha. Kity ini nempel terus sama Imam, kayak Farel dan Fitri. Kalo diajak debat gak akan pernah berhenti. Jangan biarkan ada makanan dihadapannya, pasti langsung abis.

Keyko, broadcast Binus yang awalnya terobsesi jadi dokter. Jago nulis dan jeprat-jepret. Multi talented banget pokoknya. Paling sering jadi orang ketiga dalam hubungan Imam dan Kity yang abstrak. Makanya dia juga nyempil disini. Punya banyak makanan tapi jarang dimakan. Biasanya Kity yang menghabiskan. Hahaha…

Jadi terbentuklah keluarga baru di kereta perjalanan pulang. Ada aku, Donny, Imam, Keyko, Kity dan Bang Faisal.  Tapi Bang Faisal paling sering kabur-kaburan ke pintu gerbong. Gak usah heran, kalo nggak kencing ya ngerokok.

“Kelompok tiga belum tukeran kado..” Tutur Kity.

“Imam, ini kado dari Kity.” Lanjut Kity lagi.

“Imam buka yah Kity..” Seru Imam seraya membuka bungkusnya. Dan entah apa yang salah, bungkusan itu berisi sepasang sepatu bayi bergambar Hello Kity dan gantungan boneka emoticon dengan sepasang mata berbentuk love.

“…” Imam bengong.

“Buahahaha..” Aku dan Donny tertawa.

“Iiihh.. Kan lucuu.. Kalian kenapa ketawa.. Ini buat anak Imam. Imam kan sebentar lagi menikah, tapi bukan sama Kity..” Wajah Kity memelas.

“Kity tau darimana kalau Imam nikahnya bukan sama Kity? Kita kan gak ada yang tau siapa jodoh kita..”

“Tadi Kity baca di hape Imam ada pesan dari pacarnya. Imam udah punya pacar, namanya Sayangku..”

“Imam sudah punya pacar tapi itu bukan berarti kita harus berpisah, Kitty..”

“Sudah cukup Kity menjadi kekasih Imam selama di gunung, mulai hari ini Kity akan lupakan semuanya..”

“Buahahahaha…” Aku dan Donny masih tertawa mendengar percakapan mereka bedua.

“Kalo Kity udah nggak mau sama Imam, Imam sama aku aja ya..” Sambung Keyko.

“Aaaa.. Imam.. Kity menyesal baca-baca hape Imam..”

“Yaudah mendingan sekarang Kity tidur aja di bahu Imam” Sahut Imam.

“Kity nggak bisa tidur di bahu Imam, nanti Kity mendengar degup jantungnya Imam..”

“Imam juga nggak bisa tidur. Setiap Imam menutup mata, pasti ada bayangan wajah Kity yang tersenyum..”

“Buahahahaha..” kami semua tertawa.

“Donny, lu beli popmie gih. Gue nanti beli susu cokelat.” Kataku.

“Ini nih yang bikin jam makan popmie gue bergeser.” Tak lama kemudian Donny memesan popmie dan susu cokelat.

“Ini kuahnya racun nih!” Jelas Donny.

“Yaudah kuahnya nggak usah diminum.” Sahutku.

“Tapi gue pengen minum kuahnya, Git.” Kata Donny lagi.

“Berarti lo minum racun.”

“Kalian ini berdebat terus siiih.. Kayak Imam dan Kity dong, mesra..” Potong Kity.

“Gue bau ih..” Aku mengendus-endus.

“Gue juga bau.” Sahut Donny.

“Semua bau campur jadi satu!” Potong Kity lagi.

Waktu berjalan cepat sekali, tiba-tiba sudah malam saja. Kami menggelar matras dan bermain gaple. Namun aku mengantuk dan menyusul Donny yang telah terlelap duluan.

Tiba-tiba pukul setengah sebelas kereta berhenti, aku membuka mata. Ah, Stasiun Solo Jebres. Ingin rasanya turun dan pulang kampung. Atau sekedar mengunjungi rumah Anggi di Purwosari.

“Donny, gue mau turun.” Tuturku.

“Mau ngapain?”

“Pulang kampung..”

“Yaudah turun gih..” Jawab Donny.

“Ih, kok lu nggak nyegah gue sih? Hahaha…” Donny nyengir.

“Laper ih..” Aku menggumam.

“Nih ada pisang.” Sahut Imam. Mataku berbinar.

“Agit suka pisang ya? Ngeliat pisang seneng banget” Ceplos Kity. Aku nyengir. Kemudian melahap pisang mlenyek dan melanjutkan tidur sampai pagi.

Pukul tujuh pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Cirebon dan berhenti agak lama.

“Donny beli popmie gih, nanti gue beli susu cokelat.” Ujarku.

“Nggak ah. Semalem gue udah makan popmie. Lu beli susu aja nanti gue beli energen.” Tak lama kemudian kupanggil Penjual minuman seduh yang melintas.

“Kalian ini, sukanya jajan susu cokelat sama energen.” Celetuk Kity.

Dan obrolan hangat kembali mengalir hingga siang, sampai akhirnya kami melintasi Stasiun Tambun. Aku meminta Donny untuk menurunkan Carrierku. Aku membereskan barang-barangku yang tercecer. Kemudian berpamitan dengan teman-teman lainnya. Kereta akhirnya berhenti..

“Donny, bawain carrier gue turun yuk..” Donny menurut dan mengentarku turun.

“Disini aja Don, Dadaaah..” Aku melambaikan tangan. Donny kembali ke kereta. Segera ku kenakan Carrier dan berjalan perlahan meninggalkan stasiun. Kereta mulai berjalan meninggalkan Bekasi. Sampai jumpa lagi, Kawan :’)

Terimakasih,
Orang-orang baru,
Yang datang dan pergi,
Atau sekedar melintas..

Atas keluguan dan keegoisan,
Dari sini aku belajar tentang banyak hal,
Tentang kemanusian,
Tentang harapan,
Pengorbanan..

Sabar dan ikhlas merupakan kunci,
Dari sebuah lubang bernama kehidupan,
Semoga ada perubahan yang berarti,
Dalam hidupku yang selanjutnya,
Perjalanan,
Belum berakhir disini..





(Selesai)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"