Skip to main content

Edisi Jadi Fotografer di Ciater



Ciater atau yang juga dikenal dengan Sari Ater adalah tempat wisata yang terletak di Subang, Jawa Barat, dengan objek wisata air panas sebagai andalannya. Mata air panas di Ciater ini berasal dari Gunung Tangkuban Parahu yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Karena lokasinya masih di pegunungan, maka postingan ini saya masukkan ke label mountaineering ya. Lumayan kok, trekkingnya :D

Air panas di Ciater juga tersedia bermacam-macam yaitu berupa aliran air sungai, pancuran, kolam berendam hingga air panas di termos untuk menyeduh kopi. Saya pribadi sudah beberapa kali kesini sebelumnya. Dan rasanya malas bila harus kesini dengan alasan tamasya kantor. Istilah kerennya; gathering.

Perjalanan dimulai dari Bekasi pukul tujuh pagi. Itu pun karena saya kesiangan dan terlambat datang. Padahal seharusnya jadwal keberangkatan yaitu pukul enam pagi. Saya cuek bebek masuk ke mobil kantor yang terakhir stand by di parkiran (Iya, lima mobil lainnya sudah berangkat duluan!) Belum sempat teman-teman kantor saya cuap-cuap mengomentari ke-ngaretan yang keterlaluan ini, saya lebih dulu pulas melanjutkan tidur yang tertunda. Saat itu saya dijadikan seksi dokumentasi. Sudah tentu tak akan ditinggal rombongan.

Tol Cikampek ramai lancar. Tidur saya pun begitu pulas hingga ternyata pukul sebelas siang kami sudah tiba di lokasi tujuan. Saya melewatkan momen haha-hihi selama di mobil. Biarlah, saya juga sudah terlalu asyik dengan dunia saya sendiri :(

"Peraturan pertama, semua peserta dan panitia wajib mandi di air panas!" Ujar seksi acara. Yang lainnya sibuk membawa gembolan berisi baju ganti, sementaran saya hanya cengengesan dengan tas kamera tersampir di bahu.

"Agita, kamu nggak bawa baju ganti?" Ternyata seksi acara sadar dengan bawaan saya.

"Enggak." Ujar saya singkat. Saya benar-benar menjadi makhluk menyebalkan hari itu.

"Ya udah, kamu foto-foto aja." Ujarnya memerintah. Saya melengos. Dan tak seperti biasanya, saya yang selalu nyengir di depan lensa kini menjadi seorang pendiam yang berkutat dengan kotak ajaib di genggamannya. Saya jadi fotografer amatiran di Ciater :(



Kayak anak Panti Asuhan yak? *eh


Tiket Masuk


Taman dan Air Mancur


Gak Tau Ini Apa


Arena Bermain Anak

Langkah saya terasa berat. Saya memiliki kenangan buruk di Ciater. Iya, tiap kali kesini saya selalu sedang Jomblo :'(

Travelmate? Boro-boro! Makanya saya rada sebel ikutan acara kantor, kalau belum berkeluarga nggak boleh bawa siapa-siapa. Kan, mendingan jalan sendiri (atau berdua sama si Nauvel :3) jadi bisa lebih puas nikmatin suasana alamnya. Sebenarnya seksi dokumentasi ada dua orang, tapi partner saya pun menghilang entah kemana.


Airnya panas, lho.


 

Bapak Penjual Eskrim atau Sewa Tikar


Dedek Jilatin Eskrim


Air Panas (lagi)


Nggak Kenal


Kena Deh :3


Anggap saja ini iklan :')


Terus mana foto-foto gatheringnya? Ada di folder. Berat kalau di-upload semua. Saya juga nggak rela kalau teman kantor eksis di blog inih! Hihihi. Btw, saya nggak ke kolam pemandiannya. Dulu sudah pernah, sih. *belagu* Lagipula, kolam pemandian berada di area tertutup. Jadi ada biaya tambahan untuk masuk ke sana.

Ada baiknya menyiapkan bekal untuk makan siang selama di sini. Selain makanan yang dijual harganya dua kali lipat alias lebih mahal, pilihan makanannya juga itu-itu saja. Ada roti, sosis, pizza atau pop mie. Nggak kenyang sih Agit mah :(

Dan saya juga baru tau kalau ternyata di Ciater ini ada Outbondnya. Tapi sayang, dari kantor cuma dapat paket wisata air panas aja. Btw, sebelum saya berubah pikiran (lagi) diposting aja deh yah, sekalian foto-fotonya. Mumpung wi-fi lagi kenceng. *Agit labil*









Nah, terus mana foto saya? Mana? :(


Ini saya di kolam pemandian (Thn 2011)

ini saya tiga tahun kemudian (2014) ^^v

Apa? Muka saya beda? Sama aja, ah :(
Nah, di Ciater ini nggak boleh berendam lama-lama, lho. Apalagi yang memiliki riwayat penyakit jantung atau darah tinggi. Cukup 2-4 jam saja. Setelahnya, kami akan melanjutkan perjalanan ke Cikole, Lembang. Ditunggu postingan selanjutnya, ya :3

Comments

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"