Skip to main content

Kemping Unyu Papandayan #3

Cerita sebelumnya bisa klik disini :)


Foto terakhir sebelum pendakian

Perjalanan dimulai dengan barisan sesukanya. Tak ada peraturan satu jalur atau bergerombol. Pengunjung Papandayan hari itu bisa dibilang agak ramai. Eh, bukan agak ramai lagi, namun sangat--ramai--sekali. Om Ipung dan Bang Endi jalan duluan. Kebetulan mereka-lah yang membawa tenda. Lagipula mereka juga sudah hapal rute pendakian. Anggap saja ini daerah kekuasaan mereka. *PasangKacamata*

Kak Ida berjalan paling belakang dan dikawal ketat oleh Bang Coco. Entah persiapan fisik yang kurang matang atau kaget dengan pengalaman pertamanya dengan gunung, ia merasakan sesak. Sabar kak, Kakak pasti kuat :'( Sementara saya, ehm, saya berjalan sesuka hati. Kadang dekat mas Nur, kadang kejar-kejaran sama a'Novel, kadang ngobrol-ngobrol unyu disebelah Ibang, kadang diam tanpa kata dibelakang bang Adi, kadang dorong-dorongan ke kawah sama Immut. Hahahaha :D

Barisan terlihat tak putus-putus. Beberapa kali saya dibalap anak Lab School, nampaknya mereka sedang diklat disini. Seringkali saya membatin, "Hae, dedek-dedek ganteng. Gak ada yang mau kenalan sama kakak?" (--,)> *sambil-guling-guling-di-pasir*

Setelah dua jam berjalan, akhirnya kami tiba di Hutan Mati. Dan saatnya berfoto-foto-ria *LepasCadar*

ini namanya hutan mati

Dua Bendera

OrangeHolic dan Bapaknya

inih akoh gelayutan :3

Mari Lanjutkan Perjalanan, Kawan :)


Om Ipung dan Bang Endi mungkin sudah tiba di Camp Pondok Salada. Perkiraan hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit dari Hutan Mati untuk sampai kesana.Saya dan Bang Adi melanjutkan perjalanan duluan. Rombongan kami masih berfoto-foto ria di belakang. Sampai akhirnya tersesat dan tak tau arah jalan pulang #halah. Iya, saya sama Bang Adi tiba-tiba cuma berdua di hutan mati dan bingung mesti kemana. Lalu apa yang kami lakukan disanaaa? Hayoooo!! PADA KEPO KAN!! :D

Kami beristirahat sejenak, membuka cemilan sambil meneriakkan rombongan yang jauh di belakang. Agak lama juga menunggu kedatangan mereka. Ah iya, disini kami sempat kena jepret reporter nakal. Foto dibawah ini diambil dari metrotvnews(dot)com . Sempat dipublish juga di Koran Media Indonesia edisi 1 April 2013. Ehm, baeklah..

Jangan tinggalkan aku, Bang Adi :'(



























Setelah kami berkumpul, akhirnya Bang coco menunjukkan jalan terang. Dari kejauhan nampak tenda warna-warni mengelilingi Camp Pondok Salada. Hmm, sudah ramai.


disini masih keliatan sepi

ini gunung atau pasar? :|

Ternyata benar dugaan saya bahwa Om Ipung dan Bang Endi telah sampai duluan. Bahkan mereka sudah mendirikan tenda. Rombongan A'Novel juga sudah gelar lapak disana. Hmm, ternyata saya keong juga jalannya. Lama :(

Sesampainya di Pondok Salada, kami segera makan siang. Perut Om Ipung yang kelaparan agak terlihat menciut. Hahaha. Tapi gak cuma Om Ipung doang kok yang kelaparan, kami semua kelaparan. Terutama saya yang paginya hanya makan bubur ayam. Dan saking laparnya, sampai lupa tak ada yang mendokumentasi kegiatan makan siang ini. huhu :(

Setelah makan siang, beres-beres tenda dan gear, beberapa teman kami tidur siang. Saya juga sebenarnya mengantuk sekali saat itu. Cuma Om Ipung emang resek, tiap saya merem diteriakin suruh ambil air. Errr >_< Saya sendiri gak ngerti kenapa sesiang itu doi nyuruh ngambil air. Katanya buat masak. Ha? Barusan kan habis makan!!

Immut dan Mbak Gita, Bobo-bobo-Unyu

Hae, Ibang dan Topi merahnya ;)

ini saya sendiri gak ngerti dua orang ini lagi ngapain :|

Kavling Tenda Anak Stiba B-)
Setelah ambil air, leyeh-leyeh dan istirahat, jam empat sore kami bersiap untuk summit attack. Gak summit juga sih ceritanya, cuma ke Tegal Alun ajah. Hahaha soalnya waktu itu cuacanya lagi berkabut dan agak gerimis. Oh iya, sebelum saya berangkat, tiba-tiba rombongan ayek-ayek datang (Temen Nyemeru, bisa dibaca disini). Ada Kang Fachri juga, iya, Kang Fachri yang itu. Kalo ketemu beliau mah bawaannya langsung bikin rencana, "Mau boker dimana? Bareng ya." Hemm -_- Mereka datang kesini dengan tujuan wisuda di gunung.


ini luchuk :D
ini anak siapa?

Mas Eko, Mas Nur dan Om Ipung stay di tenda. Dan yak, kami terpisah menjadi beberapa rombongan. Kak Ida jalan duluan sama bang Endi dan bang Coco. Sementara saya dan yang lainnya bersama anak-anak UPI. Ternyata a'Novel juga belum hapal jalur ke puncak. Memang agak sulit menemukan tanda-tanda jalur di hutan mati. Beberapa kali Mbak Gita mengeluh minta pulang karena kami tiga kali menemukan jalan buntu. Namun Mas Andre tetap menyemangati, "Tangghuuung".

Dan kami bersyukur ketika melintasi tanda ini...


















Beberapa kali bersimpangan dengan pendaki yang akan turun dan berkali-kali mendengar ucapan, "Semangat mbak, sepuluh menit lagi sampee..."

Tanjakan ini benar-benar 'Mamang' sekali -_-

Sempat bersitegang dengan Immut cuma gara-gara air minum. Ehm, sorry, Mut, diriku ndhak tega cerita disini. Hehe ^^v


Immut dan Kak Amel terlihat pasrah
Papandayan bener-bener gak ada bonusnya, yah. Jalurnya nanjak terus. Kak Amel sempat keram berkali-kali. Dan, ehm, kali ini gak ada yang menemani saya sampai puncak. Rombongan juga terputus-putus, terpisah-pisah. Mbak Gita sama Mas Andre, Immut sama Kak Amel, saya sebatang kara :( Eh enggak deng, saya jalan dibelakang Bang Adi. hemm *garuk-garuk-kepala*

Setelah merangkak dan tarik-tarikan di tanjakan mamang, jalan lagi, istirahat, jalan, istirahat, dan kayaknya itu lebih dari sepuluh menit deh -_- akhirnya kami tiba disini...



Semesta, Izinkan Aku Berpuisi...



Dan disinilah kakiku berpijak,
Tegal Alun,
Padang edelweis yang meninggalkan ribuan jejak..

Disinilah kakiku berpijak,
Hamparan rumput dan dedaunan hijau,
Laksana permadani menjuntai di langit,
Bunga-bunga abadi,
Malu-malu bermekaran,
Ranum..
Harum...

Disinilah kakiku berpijak,
Diantara jutaan edelweis,
Dibumi pertiwi yang gerimis,
Ditanah lembab yang beraroma manis,
Udara gunung yang dingin nan romantis,
Mistis...

Disinilah kakiku berpijak,
Seorang diri,
Tanpamu,
Lagi...

 Puncak Tegal Alun
Papandayan - Garut
29 Maret 2013


  

 







Bersambung ke Papandayan #4 (end) bisa klik disini...


Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"