Skip to main content

Cerita dari Kaki Gunung Salak (Part I)

Awal Februari 2013,

Keluarga Besar Evening Class dari STIBA IEC smt. I mengadakan jalan-jalan ceria ke sebuah curug di Sukabumi, sebut saja curug Cangkuang. Lokasinya terletak di Desa Cidahu - Cicurug, dan memasuki kawasan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun - Salak). Trip kali ini dilaksanakan sebagai pengisi liburan semester sekaligus perayaan nilai-nilai jelek :D

Perjalanan dimulai dari terminal Bekasi dengan perjanjian paling telat kumpul jam setengah tujuh pagi. Namun apa daya, pagi yang begitu mendung ditambah dengan kegalauan saya untuk join atau tidak membuat jadwal acara yang telah tersusun rapi oleh Bang Coco jadi berantakan. Sebelumnya mari saya perkenalkan satu persatu siapa saja yang join pada trip kali ini;




Seorang adventurer sejati asal Bekasi yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Dia ketua sekaligus uang kas berjalan pada trip kali ini. Semua biaya dari charter angkot sampe kereta dia yang nanggung. xixixi :D




Sebut saja Imut. Kelakuannya absurd, gakbisa diem, agak maho dan jago modus. Sepanjang jalan kenangan, selalu bergandengan tangan dengan mbak Bella, perempuan yang lebih tua darinya. Namun disisi lain, ada seorang pria dari kelas pagi yang diam-diam menaruh hati padanya. Nanti juga kalian tau.



Mungkin saya gak punya foto mbak Bella yang sendirian, jadi terpaksa makhluk absurd di sebelahnya juga ikut saya bawa. Mbak Bella pendiam, berbanding terbalik dengan Imut. Sangking pendiamnya, kakinya sakit dan maag-nya kambuh pun ia tetap diam :(



Panggilannya Ibang, murid kelas pagi yang gak sengaja 'ikutan' gila disini. Kemana-mana bawa gadget. Pegangannya kalo nggak tablet ya notes. Keliatan banget kalo doi suka baca. Terutama baca hati wanita #eaaak :D



Kakak yang biasa dipanggil Novel ini paling demen difoto dan sadar kamera. Rela bolos kantor demi ikutan 'gila'. Suaranya bijak dan keibuan #eh



Mbak Gita, namanya sama dengan saya. Dia selalu bermasalah dengan lemak dan berat badan. Rela jalan kaki dari tanjakan yang jauuuuuuuuh banget dari pintu TNGHS gara-gara angkot charteran kita gak kuat kalo orangnya kebanyakan. Akhir-akhir ini ngebet mau naik gunung buat pamer ke gebetannya. Dan trip kaki gunung salak ini merupakan latihan pengurusan badan untuknya.



Ini foto Kak Ida sama Bang Yaskur. Gak keliatan kan kalo kak Ida sudah punya anak sebesar Bang Yaskur? :D Kak Ida juga punya masalah dengan berat badan. Tapi stock cokelatnya banyak banget. Dia juga jadi ngebet naik gunung gara-gara saya cerita turun semeru susut 6kg. Dan setiap langkahnya ketika perjalanan dengan trek mendaki menuju Curug, ia selalu berteriak "Demi enam kilo!!!" Ehem, dia paling seneng kepleset dan Bang Coco paling sering khawatir. xixixi :D



Gak usah saya upload fotonya ya. Kan udah sekalian sama kak Ida. Bang Yaskur ini Rocker asal tegal yang rela-relain join padahal sebelumnya habis kerja shift malam. Jadi sepanjang perjalanan ia terkantuk-kantuk di sebelah mamanya. Kasihan :(



Ini foto Mas Nur sama sayaaaaaa *blush*
Kami adalah Supporter Chelsea FC yang sama-sama salah kostum, bukannya The Blues, malah merah. Sama trip ini, jadinya dia udah dua kali main bareng saya. Anaknya  asik diajak ngegembel, asik juga diutangin. xixixi :D doi penikmat bengbeng dan vit.C juga seperti saya~

Bang Hadi

Anak kelas pagi yang kita sendiri pun gak pernah tau dia datang darimana. Tiba-tiba dia datang dan hilang begitu saja. Punya ikatan batin sama Imut. Akhir-akhir ini baru ketauan kalo mereka bertetangga. Dan saya agak curiga dengan hubungan mereka. Fotonya gak ada yang sendirian. Entah karena emang doi pemalu atau memang gak ada yang mau moto dia. Hahahaha :D



Bang Addie ini temen Ngetrip-nya bang Coco. Disini kebagian tugas sebagai fotografer. Orangnya pendiam dan berhasil saya ajak foto bareng walaupun agak malu-malu :D


***

Saya tiba di terminal Bekasi pukul 7 pagi dan membuat mereka menunggu agak lama. Kemudian berangkat dengan menggunakan Bis jurusan Sukabumi dengan tujuan Cicurug. Selama perjalanan, saya kebagian duduk di sebelah kanda dan dinda yang sedang bermesraan, sebut saja Imut dan Mbak Bella. Beberapa diantara kami tertidur pulas, termasuk saya.

@Terminal Bekasi, menunggu saya. Bang Coco sebagai fotografer
Coba cari penampakkan Bang Hadi. Clue : doi lagi ngerayu ibu-ibu disebelahnya.


Kami tiba di Cicurug menjelang Zuhur karena perjalanan yang mulai tersendat dari Ciawi. Setibanya di Cicurug, teman dari Bang Coco yang berdomisili di Desa Cidahu menyambut kami dengan anaknya yang masih kecil bernama Cikal. Ia telah menyiapkan transportasi berupa angkot berwarna putih. Kemudian kami diantar menuju warung makan.

Teman Bang Coco dan Anaknya, Cikal - didepan warung makan

Selepas mengisi perut, kami segera melanjutkan perjalanan. 
Salak, tunggu kami~


(Bersambung ke Part II sila klik disini)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"