Skip to main content

Ruang Inspirasi #2: Menulis di Blog itu Asik!

Menulis di Blog itu Asik

Berbagi semangat dan inspirasi kepada orang lain terutama adik-adik generasi penerus bangsa adalah hal yang sangat menyenangkan, sekaligus mengharukan. Hal itu pula yang membuat saya rela berdesak-desakkan di Commuter Line tujuan Bogor pada Sabtu lalu, tepatnya 30 Mei 2015.


Kali ini saya menjadi manusia ngaret. Terlambat satu jam dari kesepakatan awal. Saya menyesali alarm yang mati sehingga membuat Mas Zaenal dari Dompet Dhuafa menunggu saya sampai kepanasan di sebuah mobil dinas dengan tulisan Tumbuh Bersama berwarna hijau segar. Setibanya di Stasiun Bogor, Mas Zaenal ternyata sudah ditemani dengan Ibu Fadlun, seorang blogger yang juga akan berbagi pengalaman di Ruang Inspirasi Jilid Dua. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Aula Pengembangan Insani Smart Ekselensia Indonesia yang terletak di Jalan Raya Parung KM 42, Bogor. Smart Ekselensia merupakan sekolah menengah berasrama, bebas biaya dan akseleratif selama 5 tahun SMP-SMA. Sebuah sekolah yang merupakan program keren dari Dompet Dhuafa.

Perjalanan dari Stasiun Bogor menuju Smart Ekselensia Indonesia memakan waktu kurang dari satu jam. Betapa senangnya raut wajah Mbak Eni melihat kedatangan kami. Beliau yang akan menemani kami berhadapan dengan adik-adik yang smart ini. Yang paling mengharukan adalah ketika banner saya dan Ibu Fadlun terpampang besar-besaran di depan Lab Komputer dan tidak lepas menjadi sorotan. Rasanya ingin mencopot banner tersebut dan membawanya pulang. Hehehe.

Usai menyalakan laptop dan menghubungkannya dengan proyektor, saya bergabung dengan Ibu Fadlun yang telah membuka kegiatan ini lebih dulu. Kami bercerita dan bercuap-cuap tentang banyak hal. Dari manfaat nge-blog, promosi blog, jenis-jenis blog hingga mempraktikkannya secara langsung. Betapa terkejutnya kami berdua ketika mengetahui bahwa hampir seluruh isi Lab.Komputer yang terdiri dari berbagai tingkatan kelas ini telah memiliki blog dengan platform keren seperti Wordpress dan Blogspot. Bahkan ada juga yang sudah menggunakan domain .com atau .net. Keren.

Satu lagi. Mereka ternyata juga tergabung dalam kelas Jurnalistik sekolah dan beberapa di antaranya telah menelurkan buku antologi.

Merinding? Iya.

Sebagai murid-murid pilihan dari berbagai daerah dan berkesempatan untuk sekolah gratis dari SMP sampai lulus SMA hanya dengan lima tahun seharusnya menjadi kebanggan untuk mereka. Tapi latar belakang keluarga menengah ke bawah dan asal daerah yang berbeda-beda membuat mereka kerap kali menjadi pemalu dan minder dengan orang-orang kota. Hal inilah yang menjadikan Dompet Dhuafa mengundang kakak-kakak relawan Komunitas Filantropi Pendidikan untuk terus berbagi inspirasi kepada mereka. Dan sebuah kebahagiaan bagi saya untuk tergabung dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Nulis blog selama satu jam
Blogging Challenge

Selanjutnya, adik-adik ditantang untuk membuat sebuah postingan dalam waktu satu jam yang menceritakan tentang kegiatan mereka pagi hari itu dan langsung meng-share postingannya ke twitter. Ada yang bercerita tentang kegiatan di asrama, sakit gatal-gatal, hingga reportase singkat tentang kelas blogging yang masih berlangsung. Nah, berikut alamat-alamat blog mereka. Yuk, mampir!

Ada Psikolog Sinting, Azzam Struggle, Putra Ramadhan, Renald Maulana, Aral's Note, Seno Aji Wijaya, Bima Awanda, Restu AP, Are You Dreamers, M Fadhlullah, Aldy, Nashrul, Muslim Syuhadah, Haroem Soedah, Goresan Pena Hitam, Ini Kotak Pensil, Sendal Bolonk, Gustamaa, Awang, Asrama Dodol, Pemuda Kreatif, Oase Smart EI, Ifat KH, Duri Rambut Landak, Wayan M Yusuf, Fahrul Hilman. Hihihi banyak, ya? Ini belum semua, lho. Dan tugas saya dan Ibu Fadlun sekarang adalah memilih siapa pemenang dari Blogging Challenge dari sekian banyak blog barusan. Yeaaay ~

Ruang Inspirasi Jilid Dua berakhir seiring adzan Dzuhur berkumandang. Kami lantas berhamburan keluar kelas untuk foto bersama sebelum makan siang. Terimakasih untuk kak Hanis selaku seksi repot yang mau ikutan sibuk jeprat-jepret dan mengoperasikan laptop untuk materi presentasi kami. Terimakasih juga untuk Ustadz Wildan yang mempersiapkan ruang kelas dan pasang banner disana-sini.

Terimakasih, adik-adik smart!
Ibu Fadlun dan Saya

Kami kembali diantar ke Stasiun Bogor. Bu Fadlun melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya yang terletak di bilangan Depok. Sementara saya dan Hanis kembali menyusuri rel kereta Bogor Paledang, menunggu kereta Pangrango tujuan Sukabumi.

Sungguh, hari itu menjadi dua jam paling bermanfaat di hidup saya. Seperti apa kata Ibu Fadlun, berbagi itu indah dan berbagi tidak akan pernah rugi. Berbagi tak melulu perkara uang dan harta, tapi juga bisa dengan apapun. Salah satunya yaitu dengan menulis dan berbagi inspirasi.

Dua buah buku yang diberikan Ustadz Wildan menemani perjalanan saya dan Hanis menuju Sukabumi. Sekarang giliran kami yang membaca tulisan adik-adik smart dan merasakan inspirasi mereka dalam buku Antologi berjudul Kumbang-Kumbang Jampang, sebuah cerita perjalanan merangkai mimpi anak-anak negeri dalam inkubator sekolah akselerasi. 

Comments

  1. Setujuu! Menulis di blog itu memang mengasikkan, dan bisa bikin ketagihan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi kalau bisa jalan-jalan gratis terus seperti dirimu, kak :p

      Delete
  2. Keren!!
    Aku juga sudah mulai menulis :)

    Salam kenal kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jugaaa, tetap semangat untuk berbagi lewat tulisan :)

      Delete
  3. Laris bener jadi pembicara Git. Semoga sukses lah ke depannya. :D

    BTW, kok pesertanya cowok-cowok zemua? Sekolah khusus pria kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin, mas wi :D

      Iyaaaa, ini anak2 asrama cowoook. dan memang program mereka khusus utk cowok aja, sih.
      menyiapkan bibit2 pemimpin berikutnya :')

      Delete
  4. seru tuh bisa berbagi semangat dan inspirasi

    ReplyDelete
  5. sangat menyenangkan ya bisa berbagi

    ReplyDelete
  6. Zaman kuliah dulu gw jg pernah ngisi materi tentang blog disebuah SMA dipinggiran salah satu kota di jatim.. lalu sama kek ceritamu git, ternyata mereka udah mngenal blog jg.. akhirx lagi2 sama kek critamu, gw adain lomba nulis buat PR mereka.. yg pling berkesan tuh ialah antusias mreka mengikuti program kami,,, aah brasa lelah krena cuap2 ilang seketika..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus kamu jadi nostalgia gitu dong, mas? hahaha

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"