Skip to main content

Secangkir Kopi dan Senja di Watu Lumbung


Saya rindu naik gunung. Sudah lima bulan lamanya saya tidak tidur di dalam tenda dengan badan yang berbalut sleeping bag dan rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan untuk rekan satu tim. Betapa sibuknya pekerjaan dan perkuliahan semester akhir membuat saya lupa kalau ternyata hidup ini masih asyik. Bermula dari kejenuhan membuat artikel dengan tema bisnis terus menerus membuat saya iseng melihat-lihat foto perjalanan di folder laptop dan menemukan puzzle-puzzle liburan akhir tahun di Jogja lalu. Saya baru ingat, ternyata hidup saya masih asyik dan belum sempat dituangkan di blog ini.

Hari itu seharusnya kami berkunjung ke Gumuk Parangkusumo untuk main pasir. Namun siang hari yang ternyata turun hujan membuat kami lebih memilih leyeh-leyeh di Markas Pengungsi @InfoGunung Chapter Jogja (selanjutnya akan disebut dengan Markpeng) sambil menunggu hujan reda. Ingin nekat ke Gumuk Parangkusumo, namun percuma. Pasirnya sudah tentu basah karena hujan. Walau kami juga tidak tahu apakah hujannya merata sampai sana atau tidak.

Sore hari setelah hujan biasanya terasa indah. Entah muncul pelangi atau mungkin langit menghadirkan senja yang cerah. Bermula dari celetukan Mas Awan yang melihat kegelisahan kami yang kebingungan mau malam mingguan dimana, akhirnya ia menyarankan untuk ke Kampung Edukasi Watu Lumbung yang juga satu arah dengan Gumuk Parangkusumo. Daripada bosan di Markpeng, akhirnya saya dan Hanis ikut saja. Mas Awan menemani kami bersama Jery Laksana, si tambun dari Medan yang pandai melontarkan lawakan-lawakan untuk meramaikan suasana.

Kami menyusuri daerah Bantul yang begitu lurus hingga akhirnya tiba di sebuah bukit dengan hamparan sawah hijau dan pemandangan laut selatan di kejauhan. Seperti yang telah disebutkan oleh Yogyes.com, area Watu Lumbung yang didominasi oleh hutan jati ini pun diubah menjadi salah satu kawasan wisata alternatif yang menyatu dengan alam. Konstruksi-konstruksi dari bambu dan rumah-rumah sederhana berdinding kayu dibangun di antara pohon-pohon jati yang tumbuh tegak. Pohon-pohon jati yang tumbuh pun dimanfaatkan sebagai tiang-tiang penyangga konstruksi bambu. Di tempat inilah para pengunjung biasanya menghabiskan waktu menikmati keindahan pemandangan kawasan Parangtritis dari ketinggian.

Konstruksi dari bambu alias rumah berdinding kayu

Mengunjungi Kampung Edukasi Watu Lumbung semakin syahdu di kala sore, saat matahari mulai bergeser ke arah barat dan sinarnya tak lagi terasa menyengat. Beberapa tempat kuliner unik seperti Lembayung, Kedai Wedangan, Kedai Susu, Pusat Sate Kiloan dan Alas Kuliner pun siap menyediakan makanan dan minuman khas ndeso sebagai teman untuk menikmati senja. 

Kami memilih Kedai Wedangan untuk menikmati secangkir kopi dan menghabiskan senja di Watu Lumbung. Saya memesan Tahu Cocol, Pisang Goreng, Cokelat Panas, Kopi dan Teh Tarik. Saya juga lupa telah memesan apalagi. Yang penting cemilan dan minuman tersebut berhasil membuat kami betah mengobrol ngalor-ngidul hingga berjam-jam.

Selamat datang di Kedai Wedangan, Watu Lumbung.
Di Kedai Wedangan, Mbak atau Masnya bisa dapat cemilan dan secangkir kopi dengan membawa 3 buku yang layak dibaca.
Saya pesan jajanan yang banyak ya, pak.
Salah satu sudut di Kedai Wedangan
Ki-Ka (Agit, Hanis, Jery dan Mas Awan)

Pemandangan sungai yang belakangan saya tahu namanya Kali Opak tersaji di depan mata. Dulunya, Kali Opak terbentuk akibat adanya patahan atau sesar di masa lampa. Di atasnya melintang Jembatan Kretek yang menjadi penghubung kota Jogja dengan kawasan wisata di Parangtritis sejak tahun 2003 silam. Sementara itu garis pantai hanya terlihat samar-samar di sisi selatan.

Kedai Wedangan sore itu, ramai. Dipenuhi oleh remaja tanggung yang entah hanya nongkrong-nongkrong atau mungkin reunian. Saya tak sibuk mengambil foto, karena saya berusaha merekam semua memori itu di sini. Di mata dan hati saya.

Dimana pun tempatnya, Jogja selalu berhati nyaman.

Selamat senja!


Note: Semua foto ini jepretan Mas Hanis dan Mas Awan. Saya sibuk ngunyah jajanan ^_^

Comments

  1. akhirnya ndak ke Gumuk Pasir mba?? :D

    ReplyDelete
  2. sunset yang begitu indah dan terlihat sangat jelas..

    ReplyDelete
  3. Manja banget warung nya, nikmat santai di temani kopi dan gorengan hangat

    ReplyDelete
  4. Ini cafe hits yang cukup tinggi. untung sudha pernah kesana. hehe. tapi sayangnya harganya cukup mahal :(

    ReplyDelete
  5. Wahhh tempatnya cantik bgt mbak ^o^. Aku pasti betah nih baca buku di sana sambil ngopi2 dan nyemil.. :D. Bisa ga inget waktu..

    ReplyDelete
  6. artikel yang sangat menarik, terimakasih..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"