Skip to main content

Oleh-oleh dari Gunung Api Purba Nglanggeran

Oleh-oleh dari Gunung Api Purba Nglanggeran

Ada salah satu alasan mengapa Jogja tak pernah terasa membosankan. Kotanya yang ramah, pantai selatannya yang memecah ombak, hingga barisan gunung-gunungnya yang seperti memanggil-manggil untuk didaki. Bagi saya, Jogja tidak akan pernah habis untuk dijelajahi. Apalagi hanya dalam waktu empat hari seperti liburan saya bersama Webpraktis ini.

Ketika orang-orang berlomba untuk mendaki Puncak Merapi, ataupun sekadar selfie di Sabana Merbabu, kali ini saya tak berminat sama sekali. Menapakkan kaki di Jogjakarta saja sudah bikin menyayat hati, apalagi kalau harus ditambah mendaki kedua gunung tadi yang penuh akan memori?

***


Mobil yang kami sewa mulai oleng dan berderit-derit. Bocor, rupanya. Sambil menunggu ban mobil diganti oleh sang ahli, saya memilih untuk melipir sejenak ke sebuah Warung Masakan Padang yang logat pemiliknya sungguh Jogja sekali. Segelas es teh manis, pesan saya. Si Mbak Warung (atau Uni?) melayaninya dengan cekatan. Teman-teman yang lain turut mengikuti saya yang kehausan, untuk memesan minum sesuai keinginan.

Dua ribu rupiah untuk satu gelas besar es teh manis meredakan dahaga saya yang masih menunggu ban mobil diganti. Setelah beres, kami melanjutkan perjalanan ke bagian selatan Jogjakarta. Ke kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang katanya hanya setengah jam dari kota.

Mobil terus menanjak dan berkelok, hingga akhirnya kami berhenti di sebuah tebing yang telah dihias dengan bebatuan dan ucapan selamat datang khas tempat wisata.

Kami sampai di pintu masuk Gunung Api Purba Nglanggeran.

Cheers :v

Tahun ini, saya belum ditakdirkan untuk mendaki ke gunung-gunung tinggi. Kalau diingat, paling Papandayan lagi dan Papandayan lagi. Trekking jauh pun paling hanya ke Muara Gembong saja. Jadi rasanya pasti akan melelahkan untuk mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran yang katanya asyik untuk tek-tok saja. Alias mendaki sampai puncak, kemudian turun lagi.

Usai melakukan registrasi, berdoa dan menyerukan yel-yel, kami akhirnya mulai menapaki bebatuan di Gunung Api Purba Nglanggeran selangkah demi selangkah. Mas Amin, teman dari Travelnatic Magazine yang menjadi pemandu kami, dengan lincahnya melompati jalur dengan bebatuan yang agak renggang.

Kemudian melewati celah sempit yang paling fenomenal di Gunung Api Purba Nglanggeran ini.

Saya muat kok ._.v
Perjalanan menuju Gunung Api Purba Nglanggeran tak banyak memakan waktu hingga berhari-hari seperti ke Argopuro, tak perlu bersusah payah seperti ke Rinjani maupun penuh perjuangan seperti ke Semeru. Namun menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran tetap saja terasa berat apabila tidak ada yang mendampingi seperti biasanya.

Tak hampa, tapi kosong.

Mungkin orang-orang akan selalu beranggapan bahwa saya selalu galau ketika pergi ke suatu tempat di belahan bumi manapun. Kenyataannya, saya memang selalu merenungi untuk apa perjalanan saya kali ini. Mengapa kesini, ataupun mengapa memilih ini. Padahal tak pernah sekalipun saya menuliskan Gunung Api Purba Nglanggeran sebagai lanjutan destinasi.

Nglanggeran, yang konon memiliki asal muasal dari kata 'melanggar', memiliki banyak mitos dengan berbagai versi. Ada yang menceritakan bahwa Gunung Api Purba Nglanggeran ini dulunya sebagai tempat menghukum warga yang ketika sedang pesta syukuran hasil panen, mereka ceroboh merusak wayang milik dalang. Dan si dalang yang murka akhirnya mengutuk warga menjadi wayang yang kemudian dibuang ke Gunung Api Purba Nglanggeran.

Ada pula bebatuan besar yang menjadi tempat pertapaan warga. Akankah para pertapa merasa terganggu dengan kedatangan kami, dan kemudian murka kepada kami?

"Ayo, lanjut, Git!" Ujar Mas Amin membuyarkan saya yang sedang berjalan dengan wajah lesu.

"Iya, mas. Yang belakang jauh banget kayaknya." Jawab saya ngasal.

Gunung Api Nglanggeran ini didominasi oleh pepohonan dan tanah kering. Pada setiap percabangan yang dikhawatirkan akan membingungkan, selalu diberi rambu-rambu untuk menuju ke arah yang benar. Ditambah lagi tulisan-tulisan penyemangat yang tersedia di setiap posnya. Jalur naik dan turun pun dibuat berbeda agar pengunjung tidak perlu mengantri saat naik maupun turun.

Sudah rapi sekali, pikir saya saat itu.

Saya sampai di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran kurang dari dua jam, dan ini... oleh-oleh untuk kamu, yang katanya kangen denger cerita dan foto-foto kalau Agit lagi naik gunung.

itu puncaknya
bikin pengen terbang
pantauuu~
full team
daypack kesayangan
keling

ini jalurnya
penunjuk jalannya

Tak hanya satu jam waktu yang dibutuhkan untuk meluncur turun. Dan kami menyempatkan diri untuk mampir di sebuah warung terdekat dengan tujuan mengisi perut. Saya bersandar pada sebuah bambu yang menyangga warung. Sang pemilik warung memiliki banyak tong untuk meletakkan sampah-sampah tamunya. Gunung Api Purba Nglanggeran, sebuah tempat suci yang dijadikan tempat wisata. Semoga yang berkunjung kesini, tetap bisa menjaga kesuciannya.

Menuju jauh lah ke tempat dimana kamu bisa menebarkan banyak manfaat. 
Itu saja, cukup.

Comments

  1. Waaa gunung api purba nglanggeran. Pengeeeen. Dari kapan gitu gak kesampaian2 :D

    ReplyDelete
  2. Dirimu kok sepertiny kurusan Git? #gagalfokus

    ReplyDelete
  3. Masih jadi list untuk didatengin kalau balik ke Jogja nih
    keren banget

    ReplyDelete
  4. Wow, saya blum pernah ke sana malah...

    ReplyDelete
  5. hwaaa.. udah lama gw gak naek gunung lagi, jadi kangen..

    ReplyDelete
  6. Perjalanan yang sungguh menantang Mbak 😊

    ReplyDelete
  7. wah kyanya seru. baru denger gue Nglanggeran
    tempat pertapaan warga itu kya apaan yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha saya jg ga tau kak tempat bertapanya kayak apa :D

      Delete
  8. kayanya seru yaa ga secape ke semeru gitu ,, resikonya juga ga tinggi :) sekedar jalanjalan bisa ya kesini ..

    ReplyDelete
  9. Gunung nggak terlalu tinggi yang jadi favoritku yang bukan seorang pendaki hahaha. Nggak bosen udah dua kali naik ke atasnya ^^

    ReplyDelete
  10. gunung2 batu purba begini lebih eksotis ....
    kalau kemasan wisata-nya di buat seperti yang di luar negri ... pasti lebih bikin heboh ... dibuatan pilihan jalur yang lebih ekstremm .... pasti akan ngetop kemana mana ... :)

    ReplyDelete
  11. Ini padahal gak jauh dari kampung saya mbak, tapi belom kesampean kesini hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo disamperin. kasian gunungnya nungguin kamu. hihihi

      Delete
  12. Biasanya kalo ke jogja tujuan wisatanya kulineran ato objek budaya. Tapi kedepan kayaknya asik jg kalo ke gunung purba :D
    yogaprakosonugroho.wordpress.com

    ReplyDelete
  13. wahh kita harus melewati gang sempit agar bisa sampai puncak gunung purba, tapi keindahan dari atas itu bagus banget ya..

    ReplyDelete
  14. Gunung Lawu Joss mas, jadi pengen nanjak lagi nih heu heu kangen summit euy
    Agen Domino

    ReplyDelete
  15. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Oleh-oleh dari Gunung Api Purba Nglanggeran
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"