Skip to main content

#SambilJalan, Sambil Berbagi di Hutan

Piknik kali ini saya diundang oleh teman-teman dari Bandung sebagai pembicara untuk workshop menulis. Mereka menamakan acaranya #SambilJalan Vol.2. Lokasinya di Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi yang termasuk di area tiga kabupaten yaitu Bandung, Garut dan Sumedang. Katanya, sih, hutan ini biasa dipakai teman-teman Wanadri atau yang lagi pada diklat gitu. Wah, berarti saya telat dong, baru tau ada tempat se-keren ini.

Dari pintu masuk hutan, kami hanya cukup berjalan sepuluh menit hingga campground. Nggak perlu pakai ngos-ngosan karena trek-nya cukup ramah dan mudah dilalui. Sesampainya di campground, kami mendapatkan kabar baik kalau rumah pohon boleh ditempati. Secara gratis tanpa biaya tambahan. Padahal untuk mengikuti acara ini hanya dikenakan biaya Rp 150.000,- per orang. Sementara untuk sewa rumah pohonnya sendiri bisa 1,5 juta, loh. Betapa beruntungnya kami saat itu.

Kawasan Kareumbi

Acara pertama setelah makan siang adalah Materi Berkegiatan di Alam Terbuka oleh Kang Nurhuda, yang merupakan seorang 7 summiter dunia. Ia bercerita tentang apa saja yang diperlukan ketika main di gunung atau hutan, berikut resiko-resiko apa saja yang mungkin terjadi di alam bebas. Para peserta yang dibatasi hanya 30 orang ini nampak antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Sosok Kang Huda yang ramah dan sering ngebanyol membuat peserta tak sungkan untuk bertanya maupun mengemukakan pendapatnya.

Hari semakin sore. Khawatir akan hujan, maka Kang Huda menutup sharing-nya. Acara dilanjut dengan Biotrek, yaitu trekking ke hutan dan mengenal botani di sekitar. Materi disampaikan oleh Pak Juandi, seorang Kurator Tanaman yang dari helai-helai uban di rambutnya menunjukkan bahwa beliau sudah sepuh, namun tegap badan dan semangatnya mengalahkan kami yang sudah terlihat loyo.


Dengan hati-hati, Pak Juandi mencabut beberapa tanaman dan menjelaskan satu per satu apa manfaatnya. Kami berjalan di sepanjang hutan dengan terus mengikuti kemanapun Pak Juandi melangkah. Beberapa peserta sibuk memotret dan menulis, adapula yang ikut-ikutan mencicipi tanaman yang katanya bisa dimakan. Ada yang rasanya segar, adapula yang masam. Saya yang sore itu merasa ngantuk luar biasa, tidak dapat menangkap apa yang diterangkan Pak Juandi. Jangan ditiru, ya.


Biotrek di hutan, ada bule dari Belanda juga, lho~
  
  
Hari mulai gelap, kami kembali ke rumah pohon dan menyiapkan makan malam. Setelahnya, hujan menitik tiada henti. Semakin deras, sampai acara sharing tentang Outdoor Gears oleh Kang Reza @HomelessID dimulai agak ngaret. Namun, dinginnya hutan Kareumbi malam itu terasa hangat karena keceriaan para peserta. Ada yang genjreng-genjreng gitar, adapula yang tertidur. Saya pribadi sibuk memerhatikan mereka satu per satu. Sampai akhirnya ada yang bertanya kepada saya, "Teteh datang dari mana?"

"Bekasi." Jawab saya singkat.

"Kok tadi pagi nggak berangkat bareng? Tau acara ini dari mana?" Tanya yang lainnya.

Iya, saya masih menyembunyikan identitas saya sebagai salah satu pembicara. Sungguh Sabtu malam yang luar biasa.

***

Pagi hari usai sarapan, Nauvael dan Mayang sibuk menyiapkan proyektor dan layarnya. Giliran saya nih ngisi workshop menulis. Peserta yang masih sibuk ngunyah, diburu-buru untuk segera merapat ke tempat dimana layar terpasang. Beberapa dari mereka bersorak minta diputarkan film. Haduh, kita bukan mau nonton film. Ini juga bukan layar tancep.

Menulis Sambil Jalan
Workshop di alam? Cuma ada di #SambilJalan!

Usai bercerita panjang lebar dan memberikan tips-tips menulis sambil jalan, saya menampilkan sebuah foto seorang kakek dengan latar rumah pohon. Ini adalah tantangan kepada peserta untuk menulis apa saja yang mereka rasakan ketika melihat foto itu.

Hebat! Imajinasi peserta ini keren-keren sekali sampai saya pribadi bingung mau menangin yang mana. Dan tidak tanggung-tanggung, hadiah yang diberikan berupa celana outdoor dan case dari sponsor acara #SambilJalan Vol.2 ini. Tau hadiahnya keren begitu, saya mendingan jadi pesertanya deh, kak.

Selain kegiatan, materi-materi dan hadiah keren di atas, apa lagi yang didapat?


dapet totebag lucu dari arkananta, buku saku perjalanan dari pustaka tropis wanadri, buku catatan layang, jas hujan, bucket hat dari torean, toples buat nyimpen tanaman herbarium, dll.
dapet temen baru...
dapet pengalaman baru, yang siap ditulis dan dibagikan ke orang lain.

Btw, sudah selesai belum PR tulisannya?
Kalau masih buntu mau nulis apa, bisa download materi workshop menulis sambil jalan kemarin di >> sini

Harapan saya dengan adanya kegiatan seperti ini, kita dapat lebih menghargai alam, juga dapat melestarikannya dalam bentuk tulisan untuk dibagikan ke orang lain. Karena tidak pernah ada berbagi yang sia-sia.


*foto : arsip #SambilJalan
*thanks to: Torean.co, Catatan Layang, Homeless ID, Arkananta, Pustaka Tropis Wanadri, dan semua yang berpartisipasi di #SambilJalan vol.2 

Comments

  1. asik ya acaranya, adem ayem di pegunungan :)

    ReplyDelete
  2. Seru banget acaranya. Seger suasananya bikin betah nulis :-)

    ReplyDelete
  3. Konsep acaranya menarik. Semoga dengan ini makin banyak orang yang tertarik untuk mengenal alam. Paling nggak tidak ngerusak alam lah.
    Sukses selalu deh buat Agit!

    ReplyDelete
  4. Ihhh mau banget kesitu, brb cari infonya ah biar dapet murah juga ^_^

    Xoxo
    http://leeviahan.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. atau hubungi @pustrop_wanadri via twitter :)

      Delete
  5. tidak jauh dari lokasi, kemarin sempet datang ke kampung Cimulu &kp Cigumentong
    http://www.getlost2explore.com/2015/02/perjalanan-cahaya-voluntourism.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh dong di info2 kalo ada acara serupa, pengen belajar nulis juga euy :D

      Delete
    2. belajar nulis kan udah dari sd, kak. wkwkwk

      Delete
  6. wah, asik banget tuh kayaknya. seru banget deh tu kalau udah mainan nya di alam.
    berbagi dengan alam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik lah, apalagi rame-rame gitu sama temen baru :)

      Delete
  7. Wah pasti seru banget ya acaranya...
    dilihat dari konsepnya kayak di Sekolah Alam, dan jadi mengingatkan ku ketika waktu dlu jdi tmen main anak2 di Sekolah Alam. :D
    Oooh ya.. btw dishare juga donk ya... tips2 menulisnya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. klik link ini, ya ~> http://www.slideshare.net/nonagetha/menulis-sambil-jalan

      Delete
  8. ajak aku ikuta workshop kak, biar makin pinter hahaha
    Eh ada hanif juga yaaa itu ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah. jadi di kareumbi kemarin, kita ngomongin kamu gitu deh kak cum :3

      Delete
    2. Waksssss ... apa yg kalian omongin ttg daku yg imut ini ???? #kepo

      Delete
  9. keren, kapan2 kalau ada acara jalan mau ikutan nih

    ReplyDelete
  10. konsep acara yg menarik.. sy sepakat sambil jalan sambil menulis lalu menyebarkannya kepada siapa saja yg entah dimana. salam

    ReplyDelete
  11. Wah acara yang bagus banget ni...mengajarkan belajar pada alam dan mencintai alam... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup betul banget. ditambah lagi ada workshop di tengah hutan. Salut buat temen-temen #sambiljalan :D

      Delete
  12. seru banget ya, kita jadi tahu macam-macam tumbuhan dan petualangan yang asyik di hutan..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"