Skip to main content

Mengintip Wajah Indonesia dari Yogyakarta



"Hi, where do you come from?"

"Hi, I come from Indonesia."

"Indonesia? Where Is it?"

"Do you know Bali?"

"Yes, I know Bali. Is it near from Indonesia?"

"No. Bali is a part of Indonesia. Bali is city, and Indonesia is the country"

Percakapan diatas sudah terlalu sering di ceritakan oleh sahabat-sahabat saya yang pernah bepergian ke luar negeri. Dan kesimpulannya adalah, Indonesia belum se-tersohor Bali.

Agak miris mendengarnya, terlebih lagi Indonesia memiliki beragam potensi wisata yang lebih indah dari Bali. Sebut saja Pulau Weh di Aceh, Derawan dari Kalimantan, Losari milik Sulawesi hingga Raja Ampat di Papua yang merupakan impian para traveller dan backpacker domestik hingga mancanegara. Masih banyak destinasi wisata di Indonesia selain yang disebut tadi. Baik wisata budaya, wisata sejarah, wisata alam, wisata buatan hingga wisata reliji. Indonesia memang kaya.

Kembali ke judul tulisan saya...
Mengintip wajah Indonesia dari Yogyakarta. Mengapa Yogyakarta?

Indonesia terkenal dengan penduduknya yang ramah, adat dan budaya yang beragam serta pusat perbelanjaan yang murah. Yogyakarta memiliki semuanya. Dari Malioboro dan Beringharjo yang murah meriah, Gunung Merapi yang berdiri dengan gagah, hinggan pantai-pantai di selatan yang masih perawan dan tak terjamah. Mari kita mulai perjalanan dari tugu nol kilometer Yogyakarta.


Tugu nol kilometer Yogyakarta menjadi tanda bahwa Kota tersebut tersusun dalam satu garis lurus yang terhubung dari Gunung Merapi - Tugu - Keraton - Laut Selatan. Konon, dengan landmark seperti itu memudahkan para pemimpin terdahulu memantau daerah kekuasaan dan aktivitas warganya. Dari keraton akan nampak Gunung Merapi dan arah sebaliknya akan terlihat Laut Selatan. Unik bukan?

Bicara tentang Gunung Merapi, Gunung Api yang berbentuk kerucut ini masih aktif hingga sekarang dan memiliki daya tarik dalam segi penelitian, pendidikan hingga pariwisata. Setelah meletus terakhir kalinya tiga tahun lalu dan memakan banyak korban jiwa, masyarakat setempat tak kehabisan akal dalam mengolah potensi wisatanya. Saat ini telah tersedia jeep-jeep khusus wisata Merapi hingga tour-guide. Dan bagi Komunitas Pecinta Alam dapat merasakan sensasi mendaki gunung dengan jenis bebatuan ini sampai ke Puncak Garuda yang ketinggiannya mencapai 2.968 meter diatas permukaan laut. Berfoto bersama awan dan bendera Merah Putih serta memandang Kota Yogyakarta hingga garis-garis pantainya. Menakjubkan.



Setelah turun dari Gunung Merapi, perjalanan dapat dilanjutkan ke kawasan Gunungkidul. Gunungkidul memiliki dua buah potensi wisata yaitu pantai dan goa. Wisatawan dapat menjelajah goa seperti Goa Jomblang dan Goa Pindul. Namun saya lebih menyarankan untuk menelusuri pantai di kawasan Gunungkidul ini. Dalam satu hari penuh pun tak akan cukup untuk mampir ke setiap pantainya!

Ada lebih dari sepuluh pantai di kawasan Gunungkidul. Sebut saja Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Indrayanti, Pantai Drini, Pantai Pok Tunggal, Panta Seruni dan masih banyak lagi hingga entah dimana ujungnya. Perjalanan menuju pantai-pantai tersebut harus melewati bukit demi bukit terlebih dahulu. Bayangkan saja, dibalik bukit ada hamparan pasir putih yang menawan lengkap dengan birunya laut dan tebing-tebing tinggi. Jika bosan bermain di pasir dan berenang di laut, kita dapat memanjat tebing-tebing tersebut sampai ke puncaknya, kemudian berteriak sambil menatap samudera. Indonesia, I Love Youuuuuuuuuu!!!



Pulang dari gunung dan pantai, jangan lupa mampir ke pasar tradisional, keraton serta alun-alun dan beringin kembar. Tak ada habisnya jika bicara Yogyakarta, apalagi Indonesia. Indonesia memiliki wajah dan cerita yang beragam untuk dibahas, sementara Yogyakarta hanyalah sebuah pandangan saya terhadap Indonesia dengan cara melihatnya dengan celah yang sempit atau biasa disebut "mengintip".




Mengintip Indonesia melalui Yogyakarta saja sudah begitu menarik dan memukau. Bagaimana bila membuka mata dan melihat Indonesia secara langsung? Kembali saya ulangi, Indonesia tak hanya seindah Bali dan seramah Yogyakarta. Ada Pulau Weh di Aceh, Derawan dari Kalimantan, Losari milik Sulawesi, Wamena, Raja Ampat dan Jelajah Bumi Papua. Aaaaah, Let's Visit Wonderful Indonesia!











Untuk info lengkap kunjungi http://jelajahbumipapua.com/home.php

Comments

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata di indonesia
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    seputar indonesia

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"