Skip to main content

Indahnya Diingat

ini padahal saya ada di depan orangnya -,-
Satu hal yang paling menyebalkan ketika pulang dari bepergian adalah pertanyaan, "Oleh-olehnya mana?" Kadang saya tidak mengerti mana yang beneran minta atau yang hanya iseng bertanya. Tapi ada juga yang beneran minta dan masih sempat-sempatnya bilang pelit ketika tidak dibawakan oleh-oleh. Huh. Memang ngana pikir, beta traveler? Jalan-jalan aja nyari yang gratisan~

Sayang, kebanyakan teman saya selalu berbuat demikian. Katanya, kalau nggak bawa oleh-oleh nggak afdol. Katanya, kalau nggak bawa oleh-oleh nggak ingat temen. Katanya, kalau nggak dibawain oleh-oleh, nggak mau lagi berteman dengan saya. Sampai segitunya? Iya. Tapi Alhamdulillah. Saya malah senang. Teman yang merepotkan, berkurang satu. Padahal belum tentu ketika mereka bepergian juga bawa oleh-oleh.

Bagi saya, oleh-oleh bukanlah sekedar buah tangan atau camilan yang sekali dimakan langsung habis. Bukan juga berupa gantungan kunci atau pin yang kalau dipakai di tas dan dibawa desak-desakan di Commuter Line langsung copot. Kelihatannya malah useless. Saya lebih senang diingat ketika seorang teman bepergian hanya dengan selembar tulisan, foto, atau dikirimi postcard

Sederhana, tapi mengena.


Seperti yang mereka lakukan kepada saya ketika bepergian. Walau saya tidak meminta, tapi tetap dikirimi beginian :')

fotonya keren mbak alia :'D
Menuju Jauh di Papandayan. Thank's Bang Fadly!
No name :p
Buku saya di Merbabu. Makasih Listy :')
Imam dan Nauvel di Cikuray
dapet kiriman ini bulan Mei, Agustus kemudian saya sampai Rinjani!
Saya ngga ngerti kenapa mereka nunjuk nama saya di tanah sambil pegang hidung. Agit bau e'ek? :|




So sweet, kan?
Percayalah, diingat seperti ini jauh lebih indah daripada diberi oleh-oleh gantungan kunci atau pin yang gampang copot ketika desak-desakan di Commuter Line. Percayalah...


Comments

  1. Welcome back to your blog [again]

    ReplyDelete
  2. ahhh mbak agit isnpire....setujuuu banget mbak msti ditanyain oleh"nya T.T haha haha, padahal cerita kita adalah oleh" yg terbaik yah haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener mas, oleh-olehnya ngeblog aja yaaa :p

      Delete
  3. Ada kala nya kita menuju jauh untuk di lupakan dan melupakan, dari pada terlalu sakit hati ini menginggatmu selalu #GagalMoveOn

    ReplyDelete
  4. meskipun sederhana tapi ngena banget ke hati ya, memang benar kebahagiaan itu sederhana.. hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"