Skip to main content

Papandayan on Travelnatic Magazine August 2014

Comments

  1. jarang muncul di twitter, terus kaga update blog.
    pas update mampang di majalah -__-
    selamat kaka agit :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya ni lagi sibuk ama kerjaan & KRSaaaan :(

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kebodohan di Situ Gunung

Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Jogjakarta dan Angkringan Wijilan

Stasiun Lempuyangan Saya kembali berada di dalam kereta menuju Jawa, tepatnya Lempuyangan, Jogjakarta. Kereta dengan tarif delapan puluh lima ribu rupiah ini terasa begitu panas, entah memang suhu bumi yang semakin naik atau memang keadaan gerbong kami yang memprihatinkan. Kebetulan saat itu kami mendapat gerbong paling belakang dengan air conditioner yang terlihat begitu lemah. Kembali ke Jogjakarta, namun dengan tim dan tujuan yang berbeda. Kalau biasanya Jogja hanyalah tempat untuk transit sebelum mendaki gunung, kali ini saya dan tim akan menghabiskan waktu di Jogja selama tiga malam tanpa harus memikirkan kerjaan kantor yang menggunung. Ini adalah kesempatan dimana kami dapat me-refresh pikiran untuk kembali menjadi sebuah tim yang solid dengan semangat baru.

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"