Skip to main content

Tertahan di Semarang - Purwokerto



Cerita Sebelumnya Klik >>> di sini :)


Di Kalimilk, kami yang pertama sampai. Setelahnya Mbak Ang dan geng-nya tiba. Opel dan Om Ardi menyusul kemudian. Beberapa orang yang tidak saya kenal juga turut hadir. Ternyata Jema’at Al-Cruiseriyah luas juga jaringannya. Yah, begitulah pejalan dan (bukan) pendaki. Dia lagi, dia lagi.

"Mam, lo pendiem ya?" Tanya Mas Yudis yang baru saya kenal hari itu.

"Lo mau gue kenalin cewe gak, Mam?" Sambung yang lainnya.

"Gue maunya ta'aruf." Ujar Imam kalem.

"Nggak papa, Mam. Ta'aruf juga. Nanti kalo lo nggak cocok tinggal bilang, 'sori kita nggak jodoh'. Terus cari lagi deh yang lain, niatnya ta'aruf lagi." Celetuk saya.

"Buahahahaha..." Mereka asik melanjutkan keakraban sementara saya dan Danang hanya sibuk dengan isi piring masing-masing. Saya ini aslinya memang pendiam, diam-diam bocor alus.

Seusai dari nyusu dan nenen di Kalimilk, kami pindah ke Jejamuran. Makan lagi, lagi-lagi makan. Geng-nya Mbak Ang ini asli koplak semua. Sepanjang perjalanan kami tertawa walau saya tahu beberapa hati terasa begitu tersayat oleh candaan-candaan yang begitu menohok batin. Halah, oposeh bahasamu, Git.


Sesaat sebelum pulang


Saya tak mengingat begitu banyak hal selama perjalanan pulang. Saya hanya ingin pulang cepat, itu saja. Mbak Ang mengantar kami sampai ke Terminal Jombor. Bus Ramayana tujuan Semarang menjadi pilihan kami untuk pulang.

***

Hujan turun dengan derasnya. Tak pernah merasa kasihan dengan banjir yang telah terjadi di berbagai kota. Tanpa peduli sedikitpun dengan roda-roda kendaraan yang selip karena licin dan bunyi rem yang gemericit di telinga. Ia terus mengguyur badan bus Ramayana yang kami tumpangi sehingga memberikan rasa dingin tanpa harus menyalakan AC. Namun tiba-tiba Ayah iseng menyalakan AC di atas kepala saya dan Imam.

"Ih, ngapain coba dinyalain. Dingin begini juga!" Protes saya sambil menutupnya kembali.

"Kan lu beli tiket bus Patas AC! Kalo nggak mau pake AC ya harusnya beli tiket bus Ekonomi sana!" Asli lah ni orang aneh banget -____-


Perjalanan dari Jogja menuju Semarang memakan waktu empat jam. Danang turun duluan di daerah Banyumanik. Sebelumnya kami masih sempat berfoto-foto di dalam Bus menggunakan Jasa Ipad milik Danang.


Gelap-gelapan

Terang-terangan

Dadah-dadahan Sama Danang


Tujuan kami adalah Stasiun Semarang Tawang. Kereta Majapahit tujuan akhir Jakarta dengan keberangkatan pukul sepuluh ternyata datang terlambat. Entah mengapa semenjak ada Imam semua kendaraan yang kami tumpangi mendadak ngaret. Nampaknya Imam benar-benar harus buang sial.

Demi melancarkan aksi buang sial, akhirnya kami bertiga keluar Stasiun Tawang dan mengitari sekeliling. Dentuman musik dangdut menggema di kesunyian. Sebentar lagi daerah ini akan menjadi tempat jajanan malam. Kami merenung menatap danau dan berharap Imam akan meluncur ke dasarnya demi buang sial.


Rasanya Ingin Nyebur

^^v



***


Minggu, 2 Februari 2014
Kereta Majapahit tujuan akhir Jakarta akhirnya tiba di Stasiun Tawang sesaat setelah tengah malam. Kami sempat melongo mendapati kereta yang tak memiliki stop kontak. Tau gitu lebih baik naik Matarmaja saja yang lebih murah. Semalaman kami tidur dan terbangun sesaat setelah adzan Shubuh. Kereta berhenti sangat lama hingga saya benar-benar kedinginan. Ternyata diluar badai. Hujan deras dan angin kencang mengguyur daerah Jawa Tengah. Apa kabar para pendaki di atas sana?


Selamat Pagiiiiiiii :)

Kami ada disini!!

"Rasanya Ingin Nyebur ke Sumur!" - #TerImam

Kebelet Imam

Situs Peninggalan Mataram Kuno

Kami tertahan hingga pukul tujuh pagi. Ternyata rel yang akan kami lalui terhalang banjir. Ini adalah perjalanan terlama saya selama naik kereta. Semua gara-gara Imam memang.

"Eek lu, Mam. Masa libur tiga hari nggak naik gunung? Gara-gara lu, nih!" Ah, sudahlah. Saya akhiri saja ceritanya sampai disini. Sebelum kesialan benar-benar menghantui hidup saya. Sampai jumpa di halan-halan berikutnya! :)

Comments

  1. berarti msh beruntungan gw yah kaka, bulan januari kemaren gw sempet mengapai puncak hargo dumilah ditengah badai yg lumayan bikin gue hampir ambein..

    ReplyDelete
  2. Wkwkwkwkwk.. selamat ya.. mari bersorak.. horeeeeeee.. ^_^v

    ReplyDelete
  3. Kak agit minta tanda tangan dong penulis terkenal nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. siniiiih kamu tak coret-coret di jidatnya :)))

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"