Skip to main content

Cerita dari Kaki Gunung Salak (Part II)

ahhh, lama juga ya saya ndak mosting. Saya 'agak' sibuk akhir-akhir ini. Entah memang sengaja menyibukkan diri atau memang benar-benar sibuk. Jadi beginilah jadwal sehari-hari saya;
  • 05.00 Bangun - Ibadah
  • 05.15 Tidur lagi
  • 07.00 Bangun lagi, Mandi pagi, Dandan
  • 07.30 Sarapan, Prepare Bekal
  • 07.50 Berangkat Kerja
  • 08.00 - 14.00 Jaga Klinik
  • 14.00 - 14.50 Ibadah, Makan siang, Tidur di Meja Kerja
  • 14.50 Pulang dari Klinik menuju Tempat Kursus
  • 15.00 - 17.00 Ngajar Kursus
  • 17.00 Pulang ke Rumah
  • 17.15 Ibadah, Makan sore, Mandi (kalau sempat)
  • 18.00 Berangkat Kuliah
  • 18.20 Tiba di Kampus, Ibadah
  • 18.30 - 21.00 Belajar dengan benar, sambil sesekali smsan & twitteran
  • 21.00 Pulang
  • 21.30 Tiba di rumah, Ibadah, Makan malam
  • 22.00 Twitteran
  • 23.00 Tidur
Dan kegiatan seperti ini berlangsung dari Senin sampai Sabtu. Lalu kapan pacarannya? Minggu. Lalu kapan mosting di Blog-nya? Tarsok, tarsok, Ntar.. Besok.. Ntar.. Besok..

Okeh, Cukup tau!

Apasih gak jelas -_-

Ehm, Maaf Reader, yang diatas itu lagi belajar monolog. Mohon diabaikan.
Dan yak, cerita sebelumnya bisa Klik disini :)


***


Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Angkot berwarna putih yang telah diCharter oleh temannya Bang Coco. Dan sepanjang jalan kenangan, mulailah drama dan modus-modusan. Imut yang tak henti-hentinya menggoda Mbak Bella dan Bang Hadi secara bergantian. Kemudian Mbak Gita dan Kak Ida yang berkeluh kesah tentang berat badan. Lalu saya dan Bang Coco yang meracuni mereka agar naik gunung. Sementara Mas Nur, Ibang dan Kaka Novel ikut nimbrung.

"Bang Hadi, entar bayarin gua lagi lah. Nanti lo gua anter sampe rumah daaah." Celetuk Immut yang pada trip kali ini tak bawa uang sama sekali. Bang Hadi hanya menjawab dengan kerlingan mata dan senyum genit. Hahahaha :D

"Atau enggak, nanti gua keluarin beasiswa buat elu, Bang. Hahahaha" Nah, kebetulan Bapaknya Immut ini kepala Dekan di kampus kami.

"Eh iya, Mut, gimana si caranya dapet beasiswa?" Tanya salah satu diantara kami.

"Gampang. Jadi cewe gua aja sini. Ahahaha" 

"Hahahaha"

"Berarti aku dapet beasiswa dong, dek?" Tanya Mbak Bella dengan suara kalem.

"Ciyeeeeeeeeeee... Hahahaha" Kami kompak menyorakki mereka berdua, eh, bertiga. Benar-benar hubungan yang absurd.


"Jadi, kemana next trip kita?" Tanya Bang Coco serius.

"Papandayaaaaaan" Sahut saya.

"Ayoooo yuuuk... Pengen naik gunuuuung." Sahut Mbak Gita manja.

"Eh, gue kemaren turun Semeru susut enam kilo dong." Jawab saya sambil cengar-cengir.

"Eh, yang bener, Te?" Kak Ida terlihat antusias.

"Iyaaa. Beneeer. Gue disono jarang makan, tapi ngemil mulu, minum mulu, sama boker mulu. Ahahaha" 

"Ih, ih, terus Bokernya dimana?" Tanya Mbak Gita dengan tatapan jijik.

"Di semak-semak, atau di hutan, gali lubang terus ditutup lagi. Kayak kucing." Saya menjelaskan sambil nyengir.

"Iiiiiiiiiih, terus ceboknya pakek apa? Terus nanti kalo keliatan orang gimana?" Tanyanya lagi.

"Pakek tissue basah, dong. Terus kalau buang air ditutupin pakek sarung." Tutur Bang Coco. Yang lain terlihat mengangguk-angguk.

"Gue mau dong, Gete. Lo kenapa nggak bilang kalo naik gunung bisa nurunin berat badan? Enam kilo lagi!!!" Tutur Kak Ida bersemangat.

"Yaudah ayooo, Papandayaaan!!" Teriak saya riang.

"Susun aja itinerary-nya. Nanti aku anterin. Papandayan gak gitu susah kok, cocok buat pemula. Nanti disiapin barangnya dari jauh-jauh hari." Jelas Bang Coco lagi.

"Tanggal berapa, nih?" Tanya saya kemudian.

"Tanggal 22-24 Februari aja gimana? Katanya ada event disana." Jawab Bang Coco.

"Yaudah yuk. Tanggal segitu ajaaa, gak sabar pengen kuruuuuus." Jawab Mbak Gita dan Kak Ida bergantian.

"Jangaaaaaaaaaan. Kukuh tanggal 24 ultaaaaaaaaaaaah! Masa iya, tahun baru udah gue tinggal, ulang tahun gue tinggal lagiiiiiii!!" Saya berteriak kesal. Mereka malah tertawa.

"Gakpapa lah, Kukuh mah gausah dipikirin, mending lo sama gue aja." Sahut Immut.

"Krik... Kriik.. Kriikkk.." Hanya Jangkrik yang bersuara.

"Ajak aja Gete, mas Kukuhnya, Celebrate on the top of mountain." Tawar Bang Coco kemudian.

"Mana mau dia, Bang." Saya memelas.

"Yaudah, nanti diatur lagi. Yang penting siapin aja dulu barang-barangnya, sama massanya juga. Jangan sampe dia lagi-dia lagi yang ikut." Jelas Bang Coco.

"Gete, lo kemaren ke Semeru ada yang aneh-aneh gak?" Tanya kak Novel kemudian.

"Gue lagi haid tuh. Pas Night Trekking headlamp gue lepas, padahal itu susah banget dibuka. Pas cerita-cerita di kereta katanya pada ngeliat penampakan gitu, tapi gue nunduk terus gak berani liat kemana-mana"

"Ih, serem yaa.."

"Ada lagi, temen gue waktu ke Gede, dia egois ceritanya. Makan Chacha sendirian. Temennya minta, tapi dia pura-pura gak denger. Terus dia umpetin deh tuh Cha-cha ke kantong celana, terus diresletingin. Masa tau-tau ilang. Nah, dia kepikiran sampe malem. Pas dia lagi masak mie, tiba-tiba Cha-cha-nya nyemplung ke nesting. Dia kaget. Nengok keatas tapi gak ada siapa-siapa. Dia buang aja semua-muanya terus langsung ke tenda."

"Iiiiih, Geteeee, gue punya cokelat banyak niiiih.. Gue gamau ah diikutin gituuuu." Tutur Kak Ida seraya mengeluarkan bungkusan plastik yang berisi banyak cokelat. Kami semua tertawa melihat kelakuannya.

Kami bercerita ngalor-ngidul sampai akhirnya tiba di Desa terakhir di Kaki Gunung Salak.

"Bang, mobilnya gak kuat nanjak, nih.Yang cowok-cowok pada turun gih." Kata Pak Supir.

"Eh, gue aja yang turun!" Celetuk Mbak Gita sambil bergegas turun.

"Eh, gue juga deh. Sekalian itung-itung pemanasan. Demi enam kilooooo!" Sahut Kak Ida ikut-ikutan turun. Beberapa orang ikut turun. Kami tertawa. Saya dan empat orang yang tergolong berbadan kecil tetap stay di Angkot sampai akhirnya tiba disebuah bukit. Kami berlima akhirnya turun sambil menunggu mereka yang jalan kaki. Dan semesta menyuguhkan keindahan perbukitan hijau dan berkabut di hadapan saya.

"Gilaaaaa!! Baru segini aja udah ngos-ngosan! Gimana naik gunung beneran!!" Teriak Mbak Gita ketika sampai di hadapan kami. Kak Ida tak bergeming, wajahnya pucat. Kami menahan tawa. Hahahahaha ada-ada saja.

Belum lagi nanti bawa beban berat, bawa Carrier." Celetuk Bang Coco. Mereka berdua langsung lemas. Kami cekikikan.

Perjalanan dilanjutkan sampai akhirnya tiba di Pos perizinan pendakian Taman Nasional Gunung Halimun- Salak. Kami menjama' shalat Zuhur dan Ashar dan Bang Coco mengurus perizinan. Saya yang lagi-lagi sedang berhalangan akhirnya kebagian sebagai tempat penitipan tas dan sepatu. Ah, sebagian dari kami hanya memakai sendal. Dan sendal yang paling ajaib sekaligus absurd adalah sendal milik Bang Hadi. Bentuknya aneh, kemudian warna-warni polkadot dan bling-bling yang aneh pula. Saya pribadi gak ngerti dia beli dimana. Hahahaha saya juga bingung ngejelasinnya disini. Mungkin, ada yang punya fotonya? Hahahaha :D



Perjalanan dimulai pukul... (Saya lupa)
Sebelumnya saya dan Bang Ibang menyiapkan air mineral sebanyak 5 atau 6 botol yang dibeli dari warung terdekat.  Kami berjalan dengan melalui trek tanah dan bebatuan yang licin dan menurun. Terbagi menjadi 3 kelompok yang berpencar di perjalanan ini. Kelompok pertama dipimpin oleh Ayahnya Cikal, Cikal dan Bang Addie. Kemudian disusul oleh Mas Nur, saya, Bang Ibang dan Bang Hadi. Lalu yang terakhir ada Immut, Mbak Bella, Mbak Gita, Kak Ida, Kaka Novel dan Bang Coco as a sweeper *Pasang Kacamata Bang* :D

Sampai akhirnya, kami melihat sebuah pondok kecil dipinggir aliran sungai yang berarus cukup deras dan jembatan bambu tergantung diatasnya. Kami menyeberanginya perlahan.

*Jepret*




Tanpa sadar, Bang Addie telah memfokuskan lensa kamera Bang Coco ke arah kami yang sedang menyeberang di jembatan bambu. Kami beristirahat sebentar di pondok kecil itu. Terlihat Cikal sedang memakan Popmie. Aku memesan kopi.

Dan secangkir kopi pahit dihadapanku,
Menggodaku,
Jari jemariku yang tak segan memeluk cangkir panas dan beruap
Menghangatkan hidung dengan menghirup aromanya
Membangkitkan liur ketika diseruput
Membasahi bibir yang mulai kering
Membasuh kerongkongan yang tercekat
Tak henti-hentinya membuat lidah mengecap

Secangkir kopi pahit dihadapanku,
Mengajarkanku,
Dengan merasakan pahit, aku baru bisa merasakan manis.
Dengan menghadapi kenyataan yang pahit,
Aku akan sadar begitu banyak kemanisan yang telah kudapat,
Maka bersyukurlah...

Secangkir kopi pahit dihadapanku,
Kini tinggal ampas,
Berpahit-pahitlah, berlelah-lelahlah,
Manisnya hidup akan terasa setelah kau lelah berjuang...


***

Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di pondok kecil terakhir. Saat itu hujan. Saya dan yang lainnya mengenakan raincoat, namun Mbak Gita tetap setia dengan payung Pink milik bang Coco. Kami melewati hutan dan berfoto-foto ria. Sampai terdengar suara air yang sangat deras. Tibalah kami di sebuah air terjun yang cukup besar dan tak ada pengunjung. Tempat ini bagaikan Privat Area. Kami segera melepas ransel, melepas sepatu/sendal, menggulung celana, melepas raincoat dan melepas baju *lho? Salahhhh!!!!*

Bermain air dan melanjutkan dokumentasi, Silakan dinikmati :)


Seperti Kapas :)
Sebut saja Ibang :)
Keep The Blue Flag Flying High :D
Antara Kedinginan dan Kebelet E'ek :o
Ini dia penampakan Bang Hadi :D
Ada Bang Hadi juga disini..
Tiga Bidadari :D
Ibu dan Anak

Big Family of Evening Class

Berani Kotor itu Baik :D
Mau ke Mall, Jeng? :D



Dalam keadaan menggembirakan seperti itu, saya sempat berbisik kepada Mas Nur.

"Kalo lagi kayak gini, biasanya kita lupa sama Tuhan, Mas.. Makanya banyak bencana alam di tempat wisata." Mas Nur mengangguk-angguk.

"Gue jarang bisa nikmatin suatu tempat lama-lama, apalagi ikut-ikutan main air dan ketawa lepas. Lo liat batu-batu dan tebing itu...." Saya menunjuk tebing yang menyangga air terjun.

"... Kebayang gak, kalo tiba-tiba tebing, batu dan tanah itu longsor?" Lanjut saya pelan.

"Oh, iya ya.. Serem ya Get.. Apalagi kata kamu di Bogor juga lagi rawan longsor." Sahut Mas Nur. Saya mengangguk. Kemudian kami terdiam dalam pikiran masing-masing.



(Bersambung ke Part Terakhir sila klik disini)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung?  Beberapa biasa menjawab seperti ini : Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah Menikmati ketinggian Bermain dengan awan Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak Mengartikan apa itu kebersamaan Menghilang dari peradaban Bosan dengan rutinitas Olahraga Mencari jodoh Passion  Hobi Lifestyle Ikut-ikutan Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :) Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun. Mungkin beberapa ...

Transformasi Universitas Negeri Yogyakarta dalam Mengedepankan Teknologi dan Pendidikan

Saya Agita Violy, seorang guru PAUD di sebuah kota kecil yang dikelilingi suara anak-anak, riuh tawa, dan mimpi-mimpi yang masih polos. Di ruang kelas sederhana itu, saya terus belajar. Belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan lugu yang kadang justru mengajarkan saya tentang hidup. Suatu malam, setelah menidurkan anak dan menyelesaikan laporan pembelajaran, saya membuka laman Instagram Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) . Di sana, terpampang kabar tentang diluncurkannya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang Magister dan Doktor . Seketika, hati ini berdegup. Apakah ini artinya saya, dan ribuan guru lain di penjuru Indonesia, bisa menggapai mimpi akademik tanpa meninggalkan ruang kelas kami? Menengok UNY: Sebuah Perjalanan dari Masa ke Masa Source: KuliahAja.id UNY bukan kampus asing di telinga. Namanya melegenda sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di negeri ini. Dahulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta, kini UNY telah bermetamorfosis men...

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat. Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan. Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"